Kawasan Asia Tenggara diproyeksikan menjadi salah satu pusat pertumbuhan permintaan energi terbesar di dunia.

Laporan Southeast Asia Energy Outlook 2026 dari International Energy Agency (IEA) menunjukkan bahwa Asia Tenggara akan menyumbang hampir 20 persen pertumbuhan permintaan energi global hingga 2035.

>>> BAIC Indonesia: Kenaikan Harga BBM Ubah Preferensi Konsumen ke Mobil Irit

Proyeksi ini didasarkan pada kebijakan yang berlaku saat ini.

Kebutuhan energi di kawasan yang dihuni sekitar 9 persen populasi dunia ini melaju jauh lebih cepat daripada rata-rata global.

Pertumbuhan ekonomi yang stabil, peningkatan pendapatan, industrialisasi, urbanisasi, serta sektor transportasi dan kelistrikan menjadi pendorong utamanya.

IEA memperkirakan konsumsi energi Asia Tenggara pada 2050 akan mencapai lebih dari tiga kali lipat konsumsi Jepang saat ini.

Batu Bara dan Bahan Bakar Fosil Tetap Mendominasi

Batu bara menjadi sumber energi dengan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara yang meningkat rata-rata 8 persen per tahun sejak 2015.

Pangsa pasarnya dalam bauran energi kawasan naik dari 20 persen pada 2015 menjadi sekitar 30 persen pada 2024.

Indonesia menjadi pemain utama dengan menguasai hampir 90 persen produksi batu bara di Asia Tenggara.

Sementara itu, Vietnam juga mencatatkan kenaikan konsumsi batu bara seiring dengan ekspansi sektor pembangkit listriknya.

Konsumsi minyak dan gas alam di regional ini juga terus menanjak.

Permintaan minyak tumbuh rata-rata 1,5 persen per tahun sejak 2015 hingga mencapai sekitar 5 juta barrel per hari (bph) pada 2024.

Meskipun Indonesia, Malaysia, dan Thailand tetap menjadi produsen utama, produksi minyak regional turun sekitar 40 persen dari puncaknya pada 1990-an.

Akibatnya, impor minyak mentah melonjak lebih dari 30 persen dibandingkan tahun 2015.