Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi diprediksi menggeser preferensi konsumen dalam membeli kendaraan baru di Indonesia.

Pola pemilihan yang sebelumnya fokus pada performa atau desain, kini diperkirakan beralih ke efisiensi konsumsi bahan bakar.

>>> Mengenal Perbedaan Viva Milk Cleanser dan Cleansing Cream untuk Pembersih Wajah

Hal ini disampaikan oleh BAIC Indonesia sebagaimana dilansir dari Otomotif pada Rabu (17/6/2026).

Agen tunggal pemegang merek ini melihat potensi peningkatan minat terhadap kendaraan dengan biaya operasional harian lebih rendah, termasuk mobil hibrida.

Perubahan perilaku pasar di tengah kenaikan biaya operasional dinilai membuka peluang baru bagi lini produk yang mengutamakan penghematan energi.

Konsumen kini disebut lebih selektif dalam menghitung pengeluaran jangka panjang, termasuk frekuensi pengisian BBM.

Peluang di Tengah Tekanan

Chief Operating Officer (COO) BAIC Indonesia, Dhani Yahya, menjelaskan bahwa situasi ini memicu pergeseran fungsi kendaraan di ekosistem rumah tangga.

Mobil keluarga kini dituntut memiliki efisiensi optimal agar mendukung mobilitas rutin tanpa membebani anggaran.

"Kalau dari kami tentu ini menjadi peluang. Kenapa kami melihatnya sebagai peluang, karena ada dua hal yang perlu diperhatikan," kata Dhani Yahya.

Pertama, mobil bisa menjadi kendaraan pertama dalam rumah tangga yang digunakan sehari-hari, sehingga harus memiliki efisiensi yang baik.

Faktor geopolitik internasional juga disebut memengaruhi stabilitas harga energi di dalam negeri.

>>> Rupiah Melemah ke Rp 17.856 Menjelang Pengumuman Suku Bunga Bank Indonesia

Pemulihan harga ke tingkat normal diperkirakan memerlukan waktu transisi yang signifikan.

"Kami tentu tidak bersyukur dengan kondisi harga BBM yang mahal, karena itu bukan sesuatu yang kami harapkan. Namun, kami harus melihat bagaimana cara bertahan," ujar Dhani.