Gas alam menyumbang sekitar seperlima bauran energi di Asia Tenggara.

Meski Indonesia dan Malaysia dikenal sebagai pemasok utama dunia untuk liquefied natural gas (LNG), produksi gas regional sedikit menurun sejak 2015 sementara permintaan tumbuh 1 persen per tahun.

Sektor Industri Jadi Konsumen Terbesar

Sektor industri merupakan penyerap energi terbesar dengan mengonsumsi sekitar 45 persen total energi final di Asia Tenggara.

Konsumsi sektor ini meningkat 35 persen sejak 2015 hingga mencapai 9 exajoule (EJ) pada 2024.

>>> Mengenal Perbedaan Viva Milk Cleanser dan Cleansing Cream untuk Pembersih Wajah

Ekspansi manufaktur, termasuk logam non-ferrous seperti aluminium dan nikel, memicu pertumbuhan yang pesat ini.

Produksi aluminium kawasan melonjak dua kali lipat sejak 2015 menjadi 4 juta ton pada 2024, sedangkan permintaan energi untuk nikel melonjak enam kali lipat.

Indonesia menjadi motor utama yang menyumbang sekitar 90 persen kenaikan permintaan energi sektor logam non-ferrous. Negara ini juga menghasilkan hampir 20 persen produksi aluminium di Asia Tenggara.

Di Vietnam, kenaikan permintaan energi ditopang oleh industri semen, besi, baja, serta manufaktur seperti tekstil dan makanan.

Ekspansi ini menyebabkan konsumsi batu bara industri melonjak hampir 90 persen dan listrik naik sekitar 75 persen.

Sektor Transportasi dan Kelistrikan Meningkat Tajam

Energi yang dikonsumsi sektor transportasi meningkat 30 persen dalam satu dekade menjadi hampir 6,5 EJ pada 2024.

Sekitar separuh dari total konsumsi minyak Asia Tenggara digunakan untuk transportasi jalan raya.

Aktivitas angkutan truk berat tumbuh 55 persen sejak 2015 seiring peningkatan aktivitas logistik.

Di sisi lain, jumlah mobil meningkat dari 60 unit per 1.000 penduduk pada 2015 menjadi 80 unit pada 2024.