Perdebatan mengenai musik generatif berbasis kecerdasan buatan (AI) kembali memanas di industri musik global. Sekelompok seniman dan aktivis mengambil langkah tegas untuk merespons masifnya produksi lagu buatan mesin.

Organisasi Artists For An Ethical and Sustainable Internet meluncurkan kampanye bertajuk Say No To Suno. Gerakan ini secara terbuka menentang model bisnis platform pembuat musik AI, Suno.

>>> TVS Ramaikan Jakarta Fair 2026 dengan Area Pameran Lebih Luas

Kampanye tersebut diawali dengan rilisnya surat terbuka yang menyoroti dampak buruk produksi lagu berbasis AI terhadap industri musik global.

Kelompok tersebut menilai ledakan musik generatif berpotensi merugikan musisi dan pencipta lagu yang menjadi fondasi industri.

Skala produksi konten yang dihasilkan oleh Suno menjadi salah satu sorotan utama. Platform AI tersebut dilaporkan mampu menghasilkan sekitar 7 juta lagu baru setiap hari.

Kapasitas produksi tersebut dinilai jauh melampaui produksi musik konvensional. Kondisi ini dikhawatirkan dapat membanjiri layanan streaming dengan konten yang kualitasnya beragam.

Para aktivis bahkan melabeli sebagian besar karya tersebut sebagai "AI slop". Istilah ini merujuk pada konten generatif yang diproduksi massal namun memiliki nilai artistik yang dipertanyakan.

Kekhawatiran ini diperkuat oleh data platform streaming musik Deezer.

Sebelumnya, Deezer mengungkap bahwa sebagian besar lagu AI yang diunggah ke layanan mereka terindikasi sebagai konten spam untuk memanfaatkan sistem distribusi digital.

Ancaman Terhadap Royalti Musisi

Persoalan utama yang disuarakan oleh para musisi bukan sekadar mengenai volume lagu AI yang terus melonjak.

Mereka menuduh model AI seperti Suno dilatih menggunakan karya musisi manusia tanpa izin yang jelas.

Dampaknya, lagu baru hasil AI dianggap memperoleh keuntungan dari karya kreator asli tanpa pemberian kompensasi sepadan.