>>> Gisella Anastasia Akui Gugup Jalani Debut Pemeran Utama Sinetron Tobat Jatuh Cinta

Surat terbuka tersebut menyebut praktik ini sebagai bentuk eksploitasi terhadap harta karun musik dunia yang dibangun puluhan tahun.

Masuknya lagu AI ke platform streaming dinilai memperkecil distribusi royalti bagi musisi yang menghasilkan karya orisinal. Di sisi lain, Suno memiliki pandangan berbeda terkait masa depan kreativitas.

Chief Music Officer Suno, Paul Sinclair, menyatakan bahwa teknologi AI justru membuka akses bagi lebih banyak orang untuk mengekspresikan kreativitas musik.

Menurutnya, platform ini memberdayakan miliaran pengguna untuk bereksperimen tanpa harus memiliki kemampuan teknis atau akses studio profesional.

Paul Sinclair juga mengkritik sistem hak cipta tradisional yang dianggap terlalu membatasi kreativitas masyarakat.

Namun, argumen tersebut ditolak oleh kelompok musisi karena perlindungan hak cipta tetap diperlukan untuk memastikan penghargaan bagi kreator.

Sengketa Hukum Suno dan Label Rekaman

Kontroversi ini mencuat di tengah upaya industri musik global menentukan batasan penggunaan AI generatif.

Suno sendiri masih menghadapi sengketa hukum dengan sejumlah label rekaman besar terkait dugaan pelanggaran hak cipta dalam pelatihan model mereka.

Meski demikian, perusahaan tersebut telah menjalin kesepakatan lisensi dengan Warner Music untuk membangun hubungan formal dengan industri.

>>> MUA Mayang Sari Sindir Pengantin yang Belum Bayar Jasa Rias Selama Bertahun-tahun

Gelombang lagu generatif ini diperkirakan terus memicu perdebatan panjang mengenai cara karya musik dihargai di era digital.