Nicky Shiels menambahkan bahwa fakta mengenai setengah anggota komite yang memperkirakan kenaikan suku bunga pada 2026 merupakan hal yang di luar antisipasi pasar.

>>> Dolar AS Menguat Tajam Usai Sinyal Kenaikan Suku Bunga dari The Fed

“Mereka mengindikasikan bahwa kebijakan belum berada pada tingkat netral dan mereka akan lebih mengutamakan stabilitas harga dibandingkan tingkat pengangguran,” kata Shiels.

“The Fed kini menjadi penjaga inflasi yang sangat waspada, yang menciptakan hambatan tambahan bagi emas dan investor yang masih berada di pinggir pasar.”

Sebelumnya, harga emas sempat pulih setelah pengumuman kesepakatan sementara antara AS dan Iran pada akhir pekan lalu.

Potensi pembukaan kembali Selat Hormuz diharapkan dapat meredakan krisis energi yang sempat memicu lonjakan inflasi.

Secara akumulatif, logam mulia ini telah mencatatkan penurunan sebesar 20% semenjak konflik tersebut dimulai pada akhir Februari lalu.

Dalam konferensi pers pertamanya sebagai Ketua The Fed, Kevin Warsh menolak kemungkinan untuk meninjau kembali target inflasi bank sentral yang berada di angka 2%.

“I don't see any reason to revisit that target until we have successfully reaffirmed our commitment and capability to achieve that 2% inflation objective,” ujarnya.

Para pembuat kebijakan juga merevisi proyeksi ekonomi bulan Maret.

Proyeksi median inflasi tahun ini naik menjadi 3,6% dari 2,7%, sedangkan proyeksi inflasi inti 2026 meningkat menjadi 3,3% dari posisi 2,7%.

Pada pukul 15.38 waktu New York, harga emas tercatat turun 2,5% ke level US$4.224,17 per ons.

>>> Kemenekraf Usulkan Tiga Program Unggulan untuk Tahun 2027

Tren penurunan juga diikuti oleh perak yang merosot 4,1% ke bawah US$68 per ons, disusul melemahnya platinum dan paladium, sementara Indeks Bloomberg Dollar Spot naik 0,8%.