Dolar AS Menguat Tajam Usai Sinyal Kenaikan Suku Bunga dari The Fed
Nilai tukar dolar Amerika Serikat melonjak tajam setelah para pejabat Federal Reserve memberi sinyal kuat mengenai potensi kenaikan suku bunga acuan tahun ini.
Indeks Bloomberg Dollar Spot mencatat kenaikan 0,7 persen pada Rabu, menjadi performa harian terbaik sejak awal Maret.
>>> Kemenekraf Usulkan Tiga Program Unggulan untuk Tahun 2027
Penguatan dolar AS menekan pound sterling ke penurunan terbesar sejak September.
Euro melemah ke titik terendah sejak Maret, sementara yen Jepang terpuruk melewati level psikologis 160 yen per dolar AS.
Lonjakan ini dipicu oleh proyeksi ekonomi terbaru dari The Fed di bawah kepemimpinan Ketua Kevin Warsh.
Meskipun biaya pinjaman saat ini dipertahankan stabil, sembilan dari 18 gubernur bank sentral memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin persentase pada sisa tahun ini.
Perubahan sikap bank sentral langsung direspons oleh analis dan pelaku pasar keuangan global.
"The Fed mengisyaratkan perubahan yang sangat hawkish dalam fungsi reaksinya pada pertemuan pertama Kevin Warsh sebagai ketua," kata Karl Schamotta, kepala strategi pasar di Corpay Inc. "Dolar sedang menggilas seluruh pesaing utamanya."
>>> Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Kunjungi Beijing, Perkuat Kerja Sama Ekonomi
Pasar uang kini menyesuaikan perkiraan pelonggaran moneter menjadi sekitar 40 basis poin hingga Desember, dari perkiraan sebelumnya 20 basis poin.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun naik 13 basis poin menjadi 4,18 persen, mendekati level tertinggi sejak Februari 2025.
Data Commodity Futures Trading Commission menunjukkan posisi beli bersih para pengelola dana terhadap dolar AS mencapai level tertinggi sejak Februari 2025, yakni senilai US$27,8 miliar per 9 Juni.
Prospek penguatan dolar AS diperkirakan masih berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.
"Risiko terhadap dolar kini lebih condong ke arah penguatan," kata Calvin Tse, kepala strategi dan ekonomi AS di BNP Paribas SA.
>>> Harga Minyak Dunia Menguat Dipicu Pernyataan Donald Trump
"Risikonya sekarang adalah The Fed pada akhirnya menjadi lebih hawkish daripada yang diperkirakan pasar."
Update Terbaru
Alfamart Gulirkan Promo Akhir Juni 2026, Diskon hingga Gratisan
Kamis / 18-06-2026, 07:20 WIB
Minat Investor Global Meningkat, Sektor Panas Bumi RI Berpeluang Raih Pendanaan
Kamis / 18-06-2026, 07:20 WIB
Pertamina Geothermal Energy Berpeluang Besar Raih Pendanaan Hijau Global
Kamis / 18-06-2026, 07:20 WIB
KPK Hentikan Sementara Penyelidikan Kasus Dugaan Korupsi MBG
Kamis / 18-06-2026, 07:20 WIB
6 Cara Membedakan Celana Jeans Levi's Asli dan Palsu
Kamis / 18-06-2026, 07:20 WIB
Harga Ethereum Melemah Dipicu Kebijakan Suku Bunga The Fed
Kamis / 18-06-2026, 07:16 WIB
Estimasi Biaya Tol dan BBM Jakarta-Yogyakarta Pakai Honda Brio
Kamis / 18-06-2026, 07:16 WIB
Penyimpanan Emas di Swiss Turun Menjadi Enam Persen
Kamis / 18-06-2026, 07:16 WIB
Kualitas Udara Jakarta Terburuk Ketiga di Dunia, Warga Diimbau Pakai Masker
Kamis / 18-06-2026, 07:16 WIB
Suzuki Konfirmasi SUV Baru untuk Indonesia, Diduga XL7 Facelift
Kamis / 18-06-2026, 07:15 WIB
Trump Teken Kesepakatan Damai Sementara dengan Iran, Picu Kritik Internal
Kamis / 18-06-2026, 07:15 WIB
Bank Sentral Global Alihkan Penyimpanan Emas dari Swiss
Kamis / 18-06-2026, 07:14 WIB
Harga Minyak Dunia Anjlok Imbas AS dan Iran Sepakat Berdamai
Kamis / 18-06-2026, 07:12 WIB
BGN Larang Pegawai Kelola Dapur Program Makan Bergizi Gratis
Kamis / 18-06-2026, 07:12 WIB






