Militer Iran memamerkan sistem pertahanan udara baru yang telah mulai dioperasikan di tengah perang dengan Amerika Serikat yang kembali memanas setelah sempat gencatan senjata.

Teheran mengeklaim sistem pertahanan baru ini memperkuat kemampuan tempur Iran dan meningkatkan kapasitas untuk menghadapi apa yang disebutnya sebagai pesawat musuh.

>>> 30 Ucapan Hari Anak Nasional 2026 Penuh Doa dan Inspirasi

Juru bicara Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akrami Nia, mengatakan peralatan pertahanan udara terbaru tersebut telah resmi beroperasi dan secara signifikan meningkatkan kemampuan untuk merespons pesawat musuh "dengan kekuatan yang jauh lebih besar".

Dalam wawancara dengan media, Akrami Nia mengatakan Iran sedang menghadapi "momen bersejarah yang sangat sensitif".

Dikutip The Middle East Monitor, ia menambahkan bahwa kinerja rakyat Iran, angkatan bersenjata, Angkatan Darat, dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) akan semakin memperkuat posisi negara itu di kawasan maupun di tingkat internasional.

Ia kembali menegaskan bahwa Iran "tidak pernah berupaya memperoleh senjata nuklir", seraya mengatakan bahwa Amerika Serikat menggunakan tuduhan tersebut sebagai dalih untuk melancarkan serangan militer serta menerapkan tekanan dan sanksi terhadap Iran.

Akrami Nia juga menegaskan AS telah melakukan kesalahan strategis dalam menilai posisi Iran.

Menurutnya, Washington salah perhitungan karena menilai kekuatan Iran telah melemah setelah digempur tanpa henti oleh AS selama sebelas hari terakhir.

>>> Gempa Magnitudo 2,7 Guncang San Leandro, California

Hal itu diungkapkan Akrami Nia menyusul klaim Presiden Donald Trump dan pejabat AS lainnya bahwa perang telah membuat Teheran lemah.

Trump bahkan berdalih Iran sudah memohon-mohon untuk berunding lagi.

Akrami Nia mengatakan angkatan bersenjata Iran justru telah mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan konfrontasi semacam itu selama bertahun-tahun melalui latihan militer dan perencanaan yang matang.

Akrami Nia menambahkan militer Iran mampu merespons apa yang disebutnya sebagai agresi dalam waktu kurang dari dua jam berkat rencana operasional, pelatihan, dan kesiapan logistik yang telah disusun sebelumnya.

Ia juga mengatakan bahwa program pendidikan di akademi-akademi militer Iran, khususnya Universitas Komando dan Staf, selama dua dekade terakhir difokuskan pada berbagai skenario perang yang melibatkan AS dan Israel.

>>> Daftar Jalan Tol yang Disiapkan Jadi Landasan Darurat Pesawat Tempur

Menurutnya, hal tersebut telah membantu mempersiapkan para komandan militer untuk mengelola konflik semacam itu dan memberikan respons secara cepat.