Bagi umat Islam, hari Jumat adalah penghulu dari segala hari. Puncaknya adalah pelaksanaan Salat Jumat yang hukumnya fardu ain bagi laki-laki muslim. Nah, pada Jumat, 24 Juli 2026 yang bertepatan dengan bulan Safar 1448 Hijriah, ada satu tema khutbah yang sangat relevan dan penting untuk direnungkan bersama: "Bulan Safar: Bukan Bulan Sial".
 
Teks khutbah ini disusun sebagai acuan bagi para khatib di seluruh Nusantara agar dapat menyampaikan pesan yang menyejukkan, mencerdaskan, dan meluruskan keyakinan keliru yang masih mengakar di sebagian masyarakat.
 
Lantas, dari mana asal mitos bulan Safar sebagai bulan sial? Dan bagaimana Islam memandang hal tersebut? Mari kita bedah tuntas dalam artikel ini sekaligus menyimak teks khutbah lengkapnya.
 

Mengenal Bulan Safar dan Asal-Usul Mitos "Bulan Sial"

Bulan Safar adalah bulan kedua dalam sistem penanggalan Hijriah, tepat setelah Muharram. Secara bahasa, Safar bermakna kosong atau bepergian. Namun, sayangnya, nama yang netral ini sering kali ditempeli stigma negatif oleh sebagian masyarakat.
 
Banyak orang yang secara keliru meyakini bahwa Safar adalah "bulan sial", bulan bencana, atau bulan yang rawan penyakit. Akibatnya, tak sedikit orang yang menunda hajatan pernikahan, menghindari perjalanan jauh, atau ragu memulai usaha baru hanya karena takut tertimpa kesialan.
 
Padahal, keyakinan ini adalah warisan dari masa Jahiliyah sebelum Islam datang. Masyarakat Arab pra-Islam sering kali mengubah-ubah urutan bulan dan mengaitkan bala dengan waktu-waktu tertentu.
 
Islam datang membawa cahaya tauhid yang membebaskan akal manusia dari belenggu khurafat dan tahayul. Rasulullah SAW secara tegas membabat habis kepercayaan mistis tersebut. Dalam sebuah hadis riwayat Al-Bukhari, Nabi bersabda:
 
“Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula tanda kesialan (thiyarah), tidak (pula) burung (tanda kesialan), dan juga tidak ada (kesialan) pada bulan Safar.” (HR. Al-Bukhari)