Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan keputusan Standard & Poor's (S&P) Global Ratings mempertahankan outlook stabil untuk Indonesia bukanlah hadiah atau bonus.

Menurutnya, keputusan itu merupakan hasil dari kinerja pemerintah yang dinilai telah memenuhi standar internasional.

>>> Dee Valladares Nominasi Tiga Penghuni Big Brother Season 28

Hal tersebut disampaikan Purbaya dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (15/7).

"S&P memberi outlook kita stable bukan dikasih sebagai bonus karena mereka baik dengan kita, bukan, tapi karena kita mempunyai kinerja yang sesuai dengan standar mereka," ujarnya.

Pemerintah Pelajari Metodologi S&P

Purbaya menjelaskan pemerintah mempelajari metodologi dan indikator yang menjadi perhatian S&P, salah satunya kemampuan bayar utang menggunakan pendapatan general government, termasuk pemerintah daerah.

Indonesia menunjukkan perbaikan pada indikator tersebut.

Rasio pembayaran utang terhadap pendapatan general government turun dari 15,4 persen menjadi sekitar 13,5 persen, di bawah batas 15 persen.

>>> Taylor Frankie Paul Hadapi Gugatan DCFS Utah soal Perlindungan Anak

Dia memastikan pemerintah akan terus berupaya memenuhi berbagai standar internasional dalam pengelolaan fiskal.

Sebelumnya, S&P mempertahankan peringkat utang jangka panjang Indonesia di level BBB dan A-2 untuk jangka pendek dengan outlook stabil.

Menurut Purbaya, keputusan itu menjadi sinyal positif bagi pasar sehingga investor tidak perlu ragu berinvestasi di Indonesia.

"Siap-siap beli saham. Beli saham kalau anda pemain saham.

Jangan takut lagi," kata Purbaya di Kompleks Parlemen, Selasa (14/7).

>>> Lautaro Martinez: Saya Sudah Bilang ke Alexis, Akan Cetak Gol

Ia juga meyakini keputusan S&P akan memperkuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan mengurangi sentimen negatif di pasar modal, obligasi, dan rupiah.