Wakil Presiden Amerika Serikat James David Vance mengungkapkan penyebab kembali memanasnya konflik antara Iran dan AS.

Menurutnya, perang kembali pecah akibat perpecahan di dalam kepemimpinan Iran terkait negosiasi dengan Washington.

>>> Roy Suryo Sebut Skenario Probanda Cara Jahat Pecah Belah dengan Dokter Tifa

Vance menyebut Iran saat ini terbagi menjadi dua kubu. Pertama, kelompok pragmatis yang ingin melanjutkan perundingan.

Kedua, kelompok garis keras yang menolak kesepakatan dengan Amerika.

"Di dalam kepemimpinan mereka ada perpecahan antara kelompok pragmatis yang ingin membuat kesepakatan dan kelompok garis keras yang tidak menginginkannya," kata Vance, dikutip Kamis (16/7/2026).

Ia mengklaim kelompok garis keras mulai bereaksi setelah melihat Iran mampu menjaga kelancaran distribusi minyak melalui Selat Hormuz.

Kondisi itu membuat mereka khawatir kehilangan posisi tawar sehingga memilih meningkatkan eskalasi dengan menargetkan aktivitas pelayaran.

"Mereka pada dasarnya berkata, 'Kami akan mencoba menutup jalur ini. Kami takut kehilangan daya tawar kami,'" ujar Vance.

Sementara itu, kubu pragmatis justru menganggap langkah tersebut sebagai kesalahan. Mereka masih menginginkan jalur diplomasi tetap terbuka.

"Kelompok pragmatis di sistem mereka mengatakan, 'Ini adalah sebuah kesalahan. Mari kita lanjutkan pembicaraan,'" katanya.

Meski situasi di lapangan kembali diwarnai aksi militer, Vance menilai arah umum hubungan kedua negara masih membuka peluang menuju penyelesaian diplomatik.

Ia mengatakan pihaknya menjalankan strategi yang menggabungkan tekanan ekonomi, insentif diplomatik, serta respons militer.

>>> Pertamina Patra Niaga Tindak Tegas Sopir Tangki Pelanggar Aturan Demi Keandalan BBM

"Kami sedang menjalani tarian diplomatik yang sangat rumit.

Kami menggunakan tekanan ekonomi, memberikan insentif, berbicara dengan kelompok pragmatis, dan ketika mereka melakukan tindakan kekerasan, kami meresponsnya," ujar Vance.