Menurutnya, seluruh langkah tersebut dilakukan secara bersamaan untuk mengarahkan proses negosiasi ke jalur yang lebih positif. "Ya, mereka sedang saling menembak sekarang.

Tetapi dalam konteks negosiasi yang lebih luas, berbagai hal terjadi secara bersamaan untuk membawa kita ke arah yang lebih baik," katanya.

Vance juga kembali mengklaim program nuklir Iran telah berhasil dihancurkan oleh operasi militer AS.

Namun, klaim tersebut berbeda dengan posisi Iran yang masih menyatakan memiliki cadangan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi serta sejumlah fasilitas nuklir lain yang belum menjadi sasaran serangan.

Selain itu, Vance mengklaim arus distribusi minyak kini justru lebih besar dibandingkan saat perang berlangsung di Selat Hormuz.

Di sisi lain, ia mengkritik kelompok politik garis keras yang terus mendorong perang lebih luas terhadap Iran.

Menurut Vance, sebagian kalangan hanya memiliki satu solusi, yakni terus membombardir musuh hingga rezim di negara tersebut runtuh.

Ia menilai pendekatan itu tidak realistis karena pengalaman pemerintah dalam menggulingkan pemerintahan negara lain menunjukkan hasil buruk dan hanya dapat dilakukan melalui pengerahan pasukan darat dalam jumlah sangat besar.

>>> Masyarakat Diminta Awasi Sidang Ijazah Jokowi, Jangan Ada Cawe-cawe

Pernyataan Vance menjadi gambaran bahwa di tengah meningkatnya ketegangan militer, pemerintah AS masih meyakini jalur diplomasi tetap memiliki peluang, meski konflik di lapangan belum sepenuhnya mereda.