Wakil Presiden Amerika Serikat, James David Vance, menegaskan bahwa pemerintahannya tidak memiliki agenda untuk menggulingkan rezim yang berkuasa di Iran.

Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan hubungan kedua negara akibat konflik di Timur Tengah.

>>> Eksepsi Ditolak, Praperadilan Roy Suryo Gagal: Dokter Tifa Prediksi Sidang Jadi Sorotan Media Dunia

Menurut Vance, perubahan pemerintahan harus menjadi keputusan rakyat Iran sendiri. Amerika tidak ingin mengulangi kebijakan intervensi yang berujung pada kekacauan seperti yang terjadi di Libya.

"Kalau rakyat Iran ingin bangkit dan mengubah pemerintahannya, itu terserah mereka," kata Vance dalam podcast The Joe Rogan Experience, dikutip Kamis (16/7).

Ia memperingatkan bahwa runtuhnya pemerintahan tanpa transisi yang jelas justru dapat menimbulkan ancaman keamanan yang lebih besar bagi dunia.

Iran, menurutnya, berpotensi berubah menjadi negara gagal apabila rezim yang ada runtuh secara tiba-tiba.

>>> Eks Jampidsus Disebut Algojo Jokowi, Bakom Balas: Akan Dilawan Prabowo

Kondisi seperti itu bisa membuka ruang bagi berkembangnya kelompok teroris dan memicu gelombang pengungsi besar-besaran menuju Eropa hingga Amerika Serikat.

Karena itu, pemerintah Vance memilih memusatkan perhatian pada sasaran yang lebih terbatas dibandingkan mengganti pemerintahan di Teheran.

Prioritas utama saat ini adalah menjaga keterbukaan Selat Hormuz. Jalur perdagangan itu harus tetap terbuka agar distribusi energi dunia tidak terganggu.

Vance juga menekankan pentingnya melindungi kelancaran distribusi minyak dan gas serta memastikan musuh tidak berhasil memiliki senjata nuklir.

>>> Edifier R1000TC II: Speaker Desktop dengan Bluetooth 6.0 dan Output 42W

Pernyataan ini menunjukkan bahwa di tengah meningkatnya konflik, pemerintahan AS masih membatasi tujuan militernya dan tidak menjadikan pergantian rezim sebagai target resmi operasi.