Iran melancarkan serangan siber dengan menargetkan ponsel tentara Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Strategi ini digunakan Teheran untuk melacak posisi personel AS.

Lembaga riset Mobile Surveillance Monitor yang fokus pada spionase seluler mengungkap lonjakan permintaan data lokasi perangkat di wilayah tersebut.

>>> Terungkap Isi Cekcok Bellingham dan Messi Saat Inggris vs Argentina

Lonjakan ini mulai terdeteksi sejak AS-Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada akhir Februari lalu.

Sinyal-sinyal tersebut dikirim menggunakan protokol SS7. Protokol ini memanfaatkan celah keamanan pada teknologi telekomunikasi era 1970-an yang tingkat keamanannya rendah.

Gary Miller, pendiri Mobile Surveillance Monitor, mengatakan data tersebut mengindikasikan kampanye serangan yang terkoordinasi.

Menurutnya, puluhan ribu militer AS yang ditempatkan di berbagai negara di Timur Tengah menjadi target.

Nikita Shah, peneliti keamanan siber di CSIS, menyampaikan perkembangan ini menandakan peningkatan kecanggihan Iran. "Dalam beberapa tahun terakhir, terutama selama konflik ini, Iran menjadi sangat kreatif.

Ini menunjukkan peningkatan tingkat kecanggihan," jelas Shah.

Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur AS (CISA) sebelumnya mengungkap kehebatan Iran dalam serangan siber.

>>> Cristian Romero Viral Usai Rayakan Gol dan Kemenangan di Depan Pemain Inggris

Pada April lalu, serangan Iran menyasar layanan pemerintah serta sistem air dan energi, mengakibatkan gangguan operasional dan kerugian finansial.

Pada Maret lalu, kelompok peretas Handala yang terafiliasi Iran mengeklaim membobol email pribadi Direktur FBI Kash Patel. Mereka juga menyebarkan foto sang direktur dan dokumen lainnya ke internet.

Kelompok hacker itu juga mengeklaim berhasil meretas drone milik FBI dan mengancam akan menyasar gelaran Piala Dunia 2026.

Respons AS

Juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM) enggan membeberkan rincian langkah pertahanan untuk melindungi personel dari aktivitas pelacakan ponsel oleh Iran.

Seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada Financial Times bahwa klaim data pelacakan berdampak signifikan tidak sesuai fakta di lapangan.

April lalu, CENTCOM melaporkan kepada kongres bahwa mereka menerima berbagai laporan ancaman terkait eksploitasi data lokasi komersial oleh pihak musuh.

>>> FIFA Rencanakan Halftime Show di Final Piala Dunia 2026, Kontroversi Muncul

Sebulan kemudian, lebih dari belasan anggota kongres melayangkan surat ke Departemen Pertahanan yang menyuarakan kekhawatiran militer AS belum optimal melindungi anggotanya dari ancaman siber.