Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan alasan di balik pemindahan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) ratusan triliun dari Bank Indonesia ke bank-bank milik negara (Himbara).

Keputusan itu diambil karena Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dinilai menggunakan indikator yang salah dalam membaca kondisi likuiditas perbankan.

>>> Clavicular Balas Kritik AOC soal Looksmaxxing: Bukan Sekadar Penampilan Fisik

Purbaya mengatakan, saat banyak pihak menyatakan likuiditas perbankan masih memadai pada 2025, kondisi sebenarnya justru berbeda.

Ia menjelaskan, pelambatan ekonomi sudah mulai terlihat, tetapi belum banyak disadari.

Purbaya yang baru menjabat Menteri Keuangan pada awal September 2025 mengaku mempertanyakan penilaian berbagai otoritas di KSSK yang menyebut likuiditas perbankan masih ample.

"Jadi ada kesalahan data atau indikator yang kita pakai oleh KSSK selama ini.

Saya sudah minta tim KSSK untuk perbaiki itu, tapi rupanya masih belum dapat," ujar Purbaya dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (15/7).

>>> Ibu Tersangka Pembunuh Bayi Kembar Dapat Dukungan Perawat

Menurut dia, indikator yang lebih tepat adalah base money atau M0.

Purbaya mengatakan pada April hingga Agustus 2025 pertumbuhan base money nyaris nol. Bahkan, kondisi serupa juga terjadi pada pertengahan 2023 hingga awal 2025.

Jika mengacu pada teori ekonom Milton Friedman, kondisi tersebut menunjukkan Indonesia sedang tidak ada pertumbuhan uang. Artinya, ekonomi sedang direm.

Berangkat dari pengalaman itu, Purbaya memutuskan memindahkan dana SAL milik pemerintah dari BI ke bank-bank BUMN.

Ia meyakini kebijakan tersebut ikut mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,39 persen pada kuartal IV 2025 dan berlanjut menjadi 5,61 persen pada kuartal I 2026.

>>> Bintang 'DWTS' Gleb Savchenko Tuduh Mantan Istri Culik Anak ke Hong Kong

"Jadi base money itu masih merupakan indikator yang valid untuk melihat apakah uang di sistem ada apa tidak," ujar Purbaya.