Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara ke kota pusat pembangkit tenaga nuklir Iran, Bushehr, pada Rabu (14/7) dini hari waktu setempat.

Kantor berita Iran IRNA melaporkan serangan tersebut menargetkan tiga lokasi di Bushehr.

>>> Galaxy Watch 4 Dikabarkan Alami Garis Layar Usai Update One UI 8.0

Gubernur Kota Bushehr Mohammad Mozafari mengonfirmasi serangan itu kepada IRNA.

Hingga saat ini belum ada laporan mengenai kerusakan atau korban tewas akibat serangan tersebut.

Iran sebelumnya telah mengaktifkan sistem rudal pertahanan untuk mengantisipasi serangan udara AS.

Langkah antisipasi itu diambil setelah Presiden AS Donald Trump memberikan ultimatum bahwa pembangkit listrik tenaga nuklir dan jembatan akan menjadi target jika Iran tidak kembali bernegosiasi.

Trump menyatakan AS akan terus melakukan serangan "sangat keras" terhadap Iran sampai ia memutuskan "itu sudah cukup".

>>> Psikolog Ungkap Kesalahan Orang Tua yang Bikin Anak Lemah Mental

Ia juga mengungkapkan bahwa AS telah mengadakan pembicaraan dengan Iran pada Selasa dan mendesak Teheran untuk mencapai kesepakatan.

AS sebelumnya pernah melancarkan serangan besar-besaran ke PLTN Bushehr sejak perang kembali meletus pada 28 Februari.

PLTN Bushehr merupakan hasil kerja sama dengan Rusia. Kontrak pembangunan unit pertama ditandatangani pada tahun 1999.

Selain dengan Rusia, Iran juga menjalin kerja sama teknologi nuklir dengan China melalui perjanjian transfer teknologi siklus bahan bakar nuklir pada tahun 1990.

>>> Apple Arcade Hadirkan Madden NFL 27 Arcade Edition dan Dua Game NFL Retro Bowl

Kerja sama ini memicu kemarahan AS, yang kemudian memberlakukan sanksi terhadap perusahaan yang berinvestasi di sektor minyak dan gas Iran pada 1995-1996.