Amerika Serikat dan Iran kembali saling serang di tengah kelanjutan proses negosiasi yang semakin suram.

Ledakan besar terdengar di Pelabuhan Bandar Abbas dan Pulau Qeshm dekat Selat Hormuz pada Senin (13/7) siang waktu setempat.

>>> 7 Cara Menenangkan Anak yang Mudah Menangis, Orang Tua Perlu Tahu

Pulau Qeshm merupakan salah satu basis pertahanan dan pusat kontrol Iran di dekat Selat Hormuz.

Tidak ada korban sipil atau kerusakan pada infrastruktur perumahan dan komersial yang dilaporkan, dikutip dari Al Jazeera.

Serangan itu diduga kuat kembali dilancarkan AS ke dekat Selat Hormuz untuk melemahkan kekuatan serangan rudal dan drone Teheran.

Kantor berita Iran, Mehr, melaporkan bahwa pasukan teroris Amerika telah melakukan serangan di garis pantai selatan Iran, yang mengakibatkan gugurnya sejumlah nelayan dan pembela tanah air.

>>> Kasatgas PRR Apresiasi Bantuan Ambulans dari Kopri untuk Sumatra

Analis: Serangan Masih Terbatas

Analis perang dan konflik kawasan dari Universitas Georgetown, Watar Paul Musgrave, menilai serangan sistematis AS dan Iran sejauh ini masih relatif terbatas.

"Selalu ada ruang untuk bernegosiasi, selalu ada ruang untuk berbicara, tetapi terkadang negara-negara bernegosiasi melalui saling tukar serangan," kata Paul Musgrave, dikutip dari Al Jazeera.

Menurutnya, kedua pihak kini semakin memahami tujuan utama masing-masing. Bagi Washington, hal itu melibatkan Selat Hormuz dan program nuklir Iran.

Bagi Iran, perang AS-Israel telah memberi mereka tujuan yang lebih ambisius di kawasan itu.

>>> 10 Mobil Terlaris Juni 2026: Innova Kokoh di Puncak

Musgrave menambahkan bahwa Iran menyerang pangkalan militer AS dan program minyak lepas pantai Kuwait, namun serangan itu masih relatif terbatas dan berpotensi meningkat.