Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan implementasi program Biodiesel 50 persen (B50) dapat menghemat devisa negara hingga Rp177 triliun atau setara US$9,79 miliar.

Penghematan itu berasal dari penghentian impor solar. Indonesia kini mampu memproduksi bahan bakar nabati dari kelapa sawit secara mandiri.

>>> Drama OTT KPK di Soloraya: Bupati Sukoharjo Etik Suryani Terjaring Kasus Pemerasan, Enam Koper Hijau Jadi Saksi

"Dengan B50, solar itu kita tidak impor lagi, dan kita menghemat devisa Rp177 triliun, dan berkontribusi terhadap net zero emission 44 juta ton CO2 setara," ujar Airlangga dalam acara Kadin Diplomatic Economic Breakfast di Jakarta, Jumat (10/7).

Langkah ini dinilai krusial di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp18 ribu per dolar AS.

Airlangga mengakui neraca perdagangan bulanan Indonesia sempat defisit akibat lonjakan harga impor BBM dunia.

Fundamental Ekonomi Solid

Meski demikian, Airlangga menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih solid dengan pertumbuhan 5,05 persen dan inflasi terjaga di kisaran 2,5 persen.

Ia optimistis B50 membuat harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan biodiesel tetap terkendali.

>>> Megawati Hangestri Tiba di Korea, Netizen Riuh Sambut Megatron

Pemerintah telah menyiapkan skenario jika krisis energi global berlangsung hingga 10 bulan ke depan dengan asumsi ICP di level US$100 per barel.

Namun, Airlangga mengingatkan ruang fiskal dari B50 harus dibarengi ketegasan penyaluran BBM subsidi. Pengusaha kaya tidak boleh lagi mengonsumsi bensin bersubsidi.

"Tetapi jika mobilnya untuk Pak Anin, di mana beliau mengendarai Range Rover atau Maybach, maka beliau tidak berhak menggunakan Pertalite.

Jadi beliau harus membayar dengan harga pasar," kelakar Airlangga.

Ketahanan energi dari B50 diharapkan mampu memitigasi dampak ketidakpastian geopolitik global seperti konflik di Timur Tengah.

>>> Intel Israel Bocorkan Rencana Spesifik Iran Bunuh Presiden Trump ke AS

"Indonesia telah memulai pengembangan biodiesel ini selama delapan tahun, dan B50 adalah yang pertama di dunia. Tidak ada negara lain yang memperkenalkan program B50," pungkasnya.