Pagi itu, deru Sungai Batang Buat mengalun tanpa henti, mengiringi aktivitas warga Desa Lubuk Beringin, Kecamatan Bathin III Ulu, Kabupaten Bungo, Jambi.

Udara sejuk dan dingin menyelimuti desa yang dikelilingi hamparan hutan.

>>> Mengapa Perut Pria Semakin Buncit Seiring Bertambahnya Usia?

Di jalan berbatu yang membelah permukiman, warga mulai beraktivitas. Ada yang berjalan kaki, ada pula yang melintas dengan sepeda motor.

Ritme kehidupan berlangsung tenang, jauh dari hiruk-pikuk kota.

Tak jauh dari pintu masuk desa, seorang pria berpeci putih berdiri menyambut pagi. Namanya Bakian, 65 tahun.

Jaket biru-oranye yang dikenakannya tampak kontras dengan hijaunya pepohonan di sekeliling.

Di desa ini, Bakian bukan sekadar warga.

Ia adalah saksi hidup perjalanan panjang Lubuk Beringin, dari desa yang pernah dicap miskin hingga kini menjadi contoh bagaimana hutan bisa menghadirkan kesejahteraan.

Dari Desa Tertinggal ke Swasembada Pangan

Tokoh masyarakat Desa Lubuk Beringin itu masih ingat ketika Lubuk Beringin pernah masuk kategori desa terbelakang.

Saat itu, desanya bahkan menjadi penerima proyek desa tertinggal pemerintah karena dinilai sebagai kawasan miskin.

Namun, label miskin itu tak pernah benar-benar ia terima. "Menurut kami orang di pinggir hutan itu bukan miskin, tetapi dia sejahtera.

Kenapa?

Karena dia bisa memanfaatkan alam sebagai sumber kehidupan dan tidak ada pencemaran antara zat-zat kimia," ujar Bakian kepada CNNIndonesia.

com di Desa Lubuk Beringin pada akhir Juni 2026.

Keyakinan itu lahir dari pengalaman pahit. Maklum, Bakian pernah menyaksikan bagaimana kerusakan hutan mengubah wajah desanya.

Saat Indonesia dilanda krisis ekonomi, banyak orang berbondong-bondong masuk ke kawasan hutan untuk mencari rotan manau.