"Kita kan sempat ada menahan (perdagangan karbon) tidak menjual sejak 2021.

Uang dari situ tuh karena memang kita tidak membagikan habis, sekarang pun masih cukup untuk operasional lima desa itu," ujar Fredi.

Nature Climate Solution Lead Konservasi Indonesia Iwan Wibisono menilai keberhasilan tersebut bukan semata-mata soal perdagangan karbon.

Menurut dia, yang paling berharga adalah proses panjang ketika masyarakat membangun kesadaran bersama untuk menjaga hutannya. Baginya, nilai ekonomi karbon hanyalah bonus.

"Awalnya pemanfaatan jasa lingkungan melalui pemanfaatan nilai ekonomi karbon itu bukan target utamanya, tetapi target utamanya adalah bagaimana masyarakat memiliki kemampuan atau kapasitas mengelola hutannya dengan baik, hutan yang ada di sekitar mereka," ujar Iwan.

"Kemudian berkembang ada peluang untuk memanfaatkan nilai ekonomi karbon dan mereka mengembangkan program perhutanan sosialnya, termasuk di dalamnya pemanfaatan jasa lingkungan nilai ekonomi karbon," jelasnya.

Di Lubuk Beringin, kesejahteraan ternyata tidak selalu datang dari menebang pohon. Justru dengan membiarkan hutan tetap berdiri, masyarakat menemukan sumber penghidupan baru.

Sungai tetap mengalir jernih, udara tetap sejuk, anak-anak bisa bersekolah, guru mengaji memperoleh insentif, hingga beasiswa mengantar generasi muda melanjutkan pendidikan.

>>> Kejagung Buka Suara soal Penggeledahan Kasus Korupsi Batu Bara dan Asabri

Semua berawal dari satu keputusan sederhana yang diambil bertahun-tahun lalu: menjaga hutan, bukan menghabiskannya.