China telah menanam 66 miliar pohon dalam proyek raksasa yang membentang di Gurun Gobi dan Taklamakan.

Tembok Hijau Besar ini dirancang untuk menghentikan perluasan gurun, dan ternyata berhasil — namun dengan kejutan yang tidak terduga.

>>> Aamir Khan Kembangkan Portofolio Properti Mewah di Mumbai dan Panchgani

Sebuah studi baru yang diterbitkan di jurnal Geophysical Research Letters mengungkapkan bahwa pohon-pohon yang ditanam di Tembok Hijau Besar tampaknya tumbuh lebih cepat daripada pohon di hutan alami.

Para peneliti menduga hal ini terjadi karena pohon-pohon tersebut merespons peningkatan kadar CO2 di atmosfer dengan lebih baik.

Meski demikian, fenomena ini masih misterius.

Penulis utama studi, Yuhang Luo, seorang ahli ekologi lanskap di Universitas Peking di Shenzhen, mengatakan kepada Live Science bahwa belum jelas bagaimana hutan buatan berbeda dari hutan alami.

Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas hutan buatan dalam menyerap karbon.

Proyek Raksasa yang Berlangsung Puluhan Tahun

Proyek Tembok Hijau Besar dimulai pada tahun 1978 dan ditargetkan selesai pada tahun 2050.

Tujuan awalnya adalah memperlambat desertifikasi padang rumput China, di mana Gurun Gobi menelan lebih dari seribu mil persegi setiap tahun.

Pada tahap awal, inisiatif ini sempat kesulitan karena beberapa jenis pohon yang dipilih untuk pertumbuhan cepat ternyata tidak cocok dengan lingkungan dan mati.

Namun, para ilmuwan China terus melanjutkan proyek ini.

Dalam prestasi perencanaan dan ketekunan yang monumental, penghalang hijau ini terus tumbuh alih-alih mati — nasib yang biasa menimpa inisiatif tembok hijau lainnya yang mencoba memaksakan penanaman pohon sebanyak mungkin.

Menurut artikel di Nature, tutupan hutan di wilayah yang dilalui tembok ini melonjak dari 5 persen pada tahun 1978 menjadi 14 persen pada tahun 2023.