Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pada Rabu, 8 Juli 2026, bahwa kesepakatan gencatan senjata sementara dengan Iran telah berakhir.

Keputusan ini menyusul gelombang serangan militer balasan antara pasukan AS dan Iran di kawasan Teluk Persia.

>>> Kritik Terhadap Raja Charles III Soal Perubahan Gelar Keagamaan

Runtuhnya gencatan senjata yang rapuh itu memicu lonjakan enam persen di pasar energi global.

Harga minyak mentah Brent naik menjadi $78,48 per barel, sementara West Texas Intermediate mencapai $75 per barel akibat risiko pengiriman di Selat Hormuz.

Menurut Komando Pusat AS, pasukan Amerika melancarkan serangan yang mengenai lebih dari 60 kapal kecil Korps Garda Revolusi Islam.

Serangan itu dilakukan setelah pasukan Iran menargetkan tiga kapal tanker komersial, termasuk kapal Qatar dan Arab Saudi.

Dampak Ekonomi dan Respons Pasar

Ryan Sweet, kepala ekonom global di Oxford Economics, mengatakan bahwa gencatan senjata antara AS dan Iran selalu rapuh.

Menurutnya, beberapa konflik kecil tidak dapat dihindari.

Ekonom itu mencatat bahwa runtuhnya kesepakatan memperumit risiko inflasi global dan mengancam jaringan pasokan teknologi penting.

"Jika kesepakatan damai gagal, hal itu tidak hanya akan menaikkan harga minyak, tetapi juga meningkatkan tekanan pada rantai pasokan AI di Asia," ujar Sweet.

Berbicara di KTT NATO di Turki, Presiden Trump menyatakan keengganan total untuk berurusan lebih lanjut dengan kepemimpinan politik Iran saat ini.

"Saya pikir ini sudah berakhir," kata Trump.

Presiden AS mengkritik keras pemerintahan Iran saat menjawab pertanyaan wartawan mengenai masa depan hubungan diplomatik. "Saya tidak ingin berurusan dengan mereka," tegas Trump.

Ia mengulangi frustrasinya terhadap proses diplomatik, membalikkan pernyataan positif sebelumnya mengenai pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei. "Mereka sampah.