Harga minyak mentah global melonjak tajam pada 8 Juli 2026 setelah eskalasi kembali konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran di Teluk Persia.

ICE Brent crude futures ditutup lebih dari 3% lebih tinggi, kemudian naik tambahan 2,8% dalam perdagangan awal hingga menembus 76 dolar AS per barel.

>>> California DMW Perintahkan 11.000 Pengemudi Ujian Ulang Tertulis

Kenaikan harga dipicu oleh serangan Iran yang menargetkan tiga kapal di titik kritis Selat Hormuz, termasuk sebuah kapal tanker minyak dan kapal pembawa gas alam cair.

Militer AS membalas dengan serangan baru di kawasan tersebut, bersamaan dengan laporan ledakan di dekat selat.

Washington juga mencabut keringanan sanksi sementara yang sebelumnya diberikan untuk penjualan minyak Iran, menambah tekanan politik pada hubungan diplomatik AS-Iran yang rapuh.

Dampak pada Pasar Energi Lainnya

Ketatnya pasar energi tidak hanya terbatas pada minyak mentah. Harga gas alam Eropa melalui hub TTF melonjak lebih dari 4% hingga melampaui 48 euro per MWh.

>>> Polisi San Mateo Tangkap Remaja Tembak Senjata Mainan di Dalam Waymo

Tingkat penyimpanan gas Eropa masih di bawah 51% kapasitas, jauh lebih rendah dari rata-rata lima tahun sebesar 66%.

Serangan drone Ukraina yang intensif terhadap kilang minyak Rusia juga menekan ekspor diesel global.

Di sisi domestik, American Petroleum Institute melaporkan penurunan persediaan minyak mentah AS sebesar 400.000 barel.

>>> Ketua MPR dan Menlu RI Terbang ke Iran Hadiri Pemakaman Khamenei Besok

Stok produk olahan mengalami kontraksi lebih tajam, dengan persediaan bensin dan distilat masing-masing turun 2,9 juta dan 1,8 juta barel.