Raja Charles III mendapat kritik dari kalangan Kristen konservatif dan mantan pendeta ibunda Ratu Elizabeth II setelah Istana Buckingham mengklarifikasi gelar kerajaannya sebagai Gubernur Tertinggi Gereja Inggris dalam laporan Sovereign Grant terbaru.

Menurut laporan istana, raja melindungi ruang iman di negara multi-agama, menandai pergeseran dari gelar historis 'Defender of the Faith' yang digunakan sejak abad ke-16.

>>> Gangguan Jaringan Smart Communications di Filipina pada 8 Juli 2026

Mantan pendeta kerajaan Dr. Gavin Ashenden mengkritik pendekatan tersebut saat tampil di podcast The Karl Stefanovic Show pada Selasa, 7 Juli 2026.

Ashenden menyatakan ketidaksetujuannya terhadap sikap Raja tentang inklusivitas agama dan membandingkannya dengan warisan Ratu Elizabeth II.

"Jelas, kita memiliki Raja yang 'woke'. Kebetulan, kita memiliki Raja yang tidak bisa berpikir jernih meskipun telah mendapatkan pendidikan terbaik," kata Ashenden.

Mantan pendeta itu juga berargumen bahwa raja telah menganut perspektif yang tidak historis mengenai penggabungan keyakinan spiritual yang berbeda.

"Dia terjebak dalam sesuatu yang menyenangkannya, yaitu gagasan bahwa semua agama dan realitas spiritual memiliki nilai yang sama.

Dan jika Anda bisa mencampurkannya, itu baik bagi masyarakat. Tidak ada bukti dalam sejarah sama sekali," ujar Ashenden.

Ketika ditanya bagaimana Ratu Elizabeth II yang almarhum akan memandang keadaan monarki saat ini, Ashenden mengatakan ia akan menilainya negatif.

"Saya pikir dia akan tahu itu adalah bencana. Dia adalah wanita yang sangat cerdas, waspada, penuh integritas," kata Ashenden.

Ia menekankan bahwa mendiang Ratu menjadi teladan bagi institusi selama masa pemerintahannya.

"Saya pikir salah satu alasan kami mencintainya adalah karena kami merasa berhadapan dengan wanita berintegritas. Ketika dunia dijalankan oleh orang-orang berintegritas, dunia aman.