CEO Palantir Kritik Model Bisnis AI Berbasis Token, Dinilai Tidak Masuk Akal
Alex Karp, CEO Palantir Technologies, melontarkan kritik tajam terhadap model bisnis kecerdasan buatan (AI) yang berbasis token.
Menurutnya, pendekatan tersebut tidak masuk akal dan tidak berkelanjutan untuk jangka panjang.
>>> Coway Debut di IndoBuildTech 2026, Perkenalkan Pemurni Air Terbaru Slim Stand
Kritik ini memicu perdebatan mengenai cara terbaik memonetisasi dan mengimplementasikan teknologi AI di industri.
Kritik terhadap Model Token
Karp menyatakan model yang membebankan biaya berdasarkan token atau unit pemrosesan data ini fundamentalnya cacat.
Ia berargumen bahwa biaya per token bisa sangat mahal dan tidak dapat diprediksi, sehingga tidak praktis untuk skala enterprise.
Ia membandingkannya dengan model bisnis perangkat lunak tradisional yang berfokus pada lisensi atau langganan.
Menurut Karp, menghitung biaya per token akan membatasi eksplorasi dan inovasi pengguna karena setiap query dikenakan biaya.
Pendekatan Palantir: Berbasis Nilai
Palantir menganut filosofi pengembangan AI yang berpusat pada penciptaan nilai jangka panjang dan integrasi mendalam.
>>> Coba Trik Ini: Satu Fitur Samsung Gantikan Semua Aplikasi di Layar Utama
Melalui platform Foundry dan Artificial Intelligence Platform (AIP), Palantir menawarkan solusi untuk mengatasi masalah kompleks di berbagai industri.
Pendekatan ini menyediakan infrastruktur AI komprehensif di mana pelanggan membayar untuk kemampuan platform dan hasil yang dicapai, bukan per transaksi token.
Hal ini mencerminkan keyakinan Karp bahwa nilai AI terletak pada kemampuannya mengubah operasi dan memberikan wawasan strategis.
Kritik Karp membuka diskusi tentang arah monetisasi AI di masa depan.
Jika model token tidak berkelanjutan, industri mungkin akan beralih ke model berorientasi nilai seperti langganan komprehensif atau berbasis hasil.
>>> Bali Resmikan Proyek Pengolahan Sampah Jadi Energi Pertama
Implikasinya besar bagi pengembang AI dan pelanggan enterprise. Pengembang perlu memikirkan ulang cara mengemas produk, sementara pelanggan bisa mendapatkan kejelasan biaya dan prediktabilitas anggaran.
Update Terbaru
Sky House BSD+ Optimistis Penjualan Esplanade Tower Tercapai
Rabu / 08-07-2026, 19:52 WIB
Pakar Ajak Mahasiswa Mulai Investasi, Tinggalkan Judol Demi Kebebasan Finansial
Rabu / 08-07-2026, 19:52 WIB
Cara Membuat Lampu Kamar Redup Otomatis Saat Ponsel Diisi Daya
Rabu / 08-07-2026, 19:51 WIB
Google Mixboard Bantu Visualisasikan Dekorasi Pernikahan Lebih Baik dari Pinterest
Rabu / 08-07-2026, 19:51 WIB
PM Modi Kunjungi Candi Prambanan Bersama Presiden Prabowo, Berdoa di Situs Bersejarah
Rabu / 08-07-2026, 19:51 WIB
Mantan Wasit Final Piala Dunia 2022 Kritik Keputusan VAR Anulir Gol Mesir
Rabu / 08-07-2026, 19:51 WIB
Kylian Mbappe Dijuluki 'Mobut' di Timnas Prancis, Ini Artinya
Rabu / 08-07-2026, 19:50 WIB
Harga Minyak Melonjak Usai Trump Nyatakan Gencatan Senjata dengan Iran Berakhir
Rabu / 08-07-2026, 19:35 WIB
Michelle Randolph Soroti Karier Akting Usai Debut Media Sosial
Rabu / 08-07-2026, 19:35 WIB
Jacob deGrom Yakin Bisa Hindari Cedera Serius Usai Alami Nyeri Pinggul
Rabu / 08-07-2026, 19:34 WIB
Penarikan Produk Makanan di AS Melonjak, Rantai Supermarket Tarik Barang Terkontaminasi
Rabu / 08-07-2026, 19:33 WIB
Taste of Chicago 2026 Kembali ke Grant Park pada Juli
Rabu / 08-07-2026, 19:33 WIB
AI Exhibition 2026 Resmi Dibuka di World Capital Tower Jakarta
Rabu / 08-07-2026, 19:13 WIB
OJK Buka Suara soal Bank Asing Tarik Dana Besar-besaran
Rabu / 08-07-2026, 19:13 WIB







