Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi mengingatkan risiko pelemahan ekonomi global masih membayangi pasar keuangan dan perekonomian domestik.

Risiko itu dipicu revisi turun proyeksi pertumbuhan dunia, lemahnya permintaan global, perlambatan ekonomi Tiongkok, serta potensi suku bunga tinggi bertahan lebih lama.

>>> PBNU Tolak Tiga Rancangan Aturan Tembakau yang Ancam Petani dan Pekerja Nahdiyin

Friderica mengatakan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dan Bank Dunia telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi masing-masing 2,8% dan 2,5% pada Juni 2026.

Proyeksi tersebut masih berpotensi turun apabila konflik geopolitik kembali meningkat atau gangguan pasokan komoditas energi berlangsung berkepanjangan.

“Prospek pertumbuhan masih dibayangi lemahnya permintaan global, perlambatan ekonomi Tiongkok serta meningkatnya prospek higher for longer yang memengaruhi risk appetite investor global di pasar keuangan,” kata Friderica dalam Konferensi Pers Asesmen Sektor Jasa Keuangan dan Kebijakan OJK Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan Juni 2026, di Jakarta, Selasa (7/7/2026).

OJK mencatat indikator perekonomian global bergerak di atas ekspektasi pasar, tetapi menunjukkan perbedaan kondisi antarnegara.

Amerika Serikat masih relatif tangguh dengan pasar tenaga kerja yang solid, meski tekanan inflasi meningkat.

Di Tiongkok, konsumsi domestik dan investasi swasta masih lemah. Sementara itu, aktivitas ekonomi Eropa tertahan oleh permintaan yang belum kuat, meskipun sektor manufaktur mulai membaik.

Tekanan global tersebut berpotensi memengaruhi arus modal dan selera risiko investor di pasar keuangan.

>>> KB Bank Syariah Raih Penghargaan Perluas Akses Layanan Keuangan Syariah

OJK juga mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah meski tekanan pada pasar energi global mulai berkurang seiring harga minyak kembali mendekati level sebelum konflik.