PBNU Tolak Tiga Rancangan Aturan Tembakau yang Ancam Petani dan Pekerja Nahdiyin
Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Lesbumi PBNU) secara resmi menolak tiga rancangan regulasi pengendalian tembakau yang tengah disusun Kementerian Kesehatan.
Penolakan itu disampaikan melalui petisi yang dikirimkan ke Kemenkes, Presiden Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, serta sejumlah lembaga negara dan asosiasi pemerintah daerah.
>>> KB Bank Syariah Raih Penghargaan Perluas Akses Layanan Keuangan Syariah
Ketua Lesbumi PBNU Jadul Maula mengatakan regulasi tersebut belum tentu efektif untuk kesehatan, tetapi hampir pasti mengancam keberlangsungan hidup masyarakat yang bergantung pada industri tembakau.
"Peraturan ini tidak adil bagi rakyat ketika kondisi ekonomi sedang turun. Justru akan melemahkan semangat daya hidup rakyat," ujarnya saat menyampaikan petisi.
Tiga rancangan yang ditolak meliputi aturan batas kandungan nikotin dan TAR, larangan bahan tambahan produk tembakau dan rokok elektronik, serta standardisasi kemasan polos.
Menurut Jadul, tembakau dan kretek telah menjadi bagian dari sejarah dan kebudayaan Nusantara, bukan sekadar komoditas ekonomi.
"Tembakau sudah menjadi bagian dari perjalanan Nahdlatul Ulama. Kebijakan yang menyasar industri ini harus mempertimbangkan hal-hal tersebut," jelasnya.
>>> Kisah Dua Saudara Rayakan 70 Tahun Pernikahan Bersama 4 Generasi
Lesbumi menilai pembatasan kadar nikotin dan TAR sulit diterapkan pada karakteristik tembakau lokal. Larangan bahan tambahan dan pengaturan kemasan juga dinilai melemahkan daya saing rokok kretek nasional.
Wakil Presiden DPP K-Sarbumusi Soeharjono menambahkan, dampak regulasi tidak hanya dirasakan industri rokok, tetapi juga jutaan pekerja di sektor turunannya.
"Berdasarkan data Kemenaker, setidaknya 6 juta jiwa akan terdampak jika regulasi ini diberlakukan. Bukan hanya petani atau buruh tembakau, tetapi juga pedagang kecil," ungkapnya.
Ia mengingatkan bahwa kebijakan yang menekan produksi industri hasil tembakau dapat memperbesar risiko PHK di tengah kondisi ekonomi yang belum pulih.
>>> VinFast VF 2 Resmi Meluncur, Siap Saingi Wuling Air ev
"Kami mendukung upaya kesehatan, tetapi kebijakan harus proporsional. Jangan sampai tujuan melindungi kesehatan justru menimbulkan pengangguran dan melemahkan ekonomi masyarakat," pungkasnya.
Update Terbaru
Ricardo Pepi Masuk Sebagai Pemain Pengganti Saat AS Hadapi Belgia
Selasa / 07-07-2026, 17:08 WIB
Jeff Bezos Investasi di Startup AI Fisik untuk Percepat Manufaktur
Selasa / 07-07-2026, 17:08 WIB
Sparks Hadapi Storm di Crypto Arena Usai Istirahat Panjang
Selasa / 07-07-2026, 17:07 WIB
PSSI dan I.League Rencanakan Longgarkan Larangan Penonton Tandang
Selasa / 07-07-2026, 17:07 WIB
Kortas Tipikor Tetapkan 2 Tersangka Kasus Pabrik Gula PTPN XI
Selasa / 07-07-2026, 17:07 WIB
Studi: Manusia Hobbit Flores Ternyata Pemakan Bangkai, Bukan Pemburu
Selasa / 07-07-2026, 17:07 WIB
Hamas Bubarkan Pemerintahan di Gaza Setelah 18 Tahun Berkuasa
Selasa / 07-07-2026, 17:07 WIB
Microsoft PHK 4.800 Karyawan di Tengah Restrukturisasi Xbox
Selasa / 07-07-2026, 17:03 WIB
Bambang Pacul Santai Tanggapi Rencana PSI Jadikan Jateng Kandang Gajah
Selasa / 07-07-2026, 17:03 WIB
Pengakuan Pengidap Kanker Paru soal Gejala Awal yang Dialami
Selasa / 07-07-2026, 17:03 WIB
Pembuat Chip AI Catat Pendapatan Rekor Meski Wall Street Terkoreksi
Selasa / 07-07-2026, 17:01 WIB
Kode Server Privat ABA Roblox Juli 2026 Terbaru
Selasa / 07-07-2026, 17:01 WIB
Kode FLASHPOINT: World Collide Terbaru Juli 2026, Klaim Hadiah Gratis
Selasa / 07-07-2026, 17:00 WIB
Rupiah Bangkit Tipis ke Rp17.980 per Dolar AS Sore Ini
Selasa / 07-07-2026, 17:00 WIB







