Harapan meningkatkan hasil panen tak lagi hanya bergantung pada benih atau pupuk.

Di Kampung Candra Jaya, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, perubahan justru dimulai dari cara menanam padi.

>>> Tak Ada Wakil AS dan Negara Barat di Pemakaman Ali Khamenei

Melalui program Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS) yang dikembangkan Kementerian Pertanian, petani mulai meninggalkan metode tanam konvensional dan beralih menggunakan drum seeder atau yang dikenal sebagai metode paralon.

Pemerintah mengklaim perubahan pola tanam tersebut tidak hanya mampu memangkas biaya produksi, tetapi juga berpotensi menggandakan pendapatan petani lewat lonjakan produktivitas.

Produktivitas Meningkat Hingga 10 Ton per Hektare

Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kementan Fadjry Djufry mengatakan PM-AAS merupakan hasil pengembangan selama dua tahun terakhir setelah mempelajari praktik budidaya padi di sejumlah negara, seperti Amerika Serikat (AS), Vietnam, dan China.

Menurutnya, metode tersebut telah diuji melalui sejumlah proyek percontohan di Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Lampung hingga Sukamandi.

Dari uji coba itu, produktivitas padi disebut mampu mencapai sekitar 8 hingga 10,4 ton per hektare, lebih tinggi dibanding rata-rata produktivitas nasional yang sekitar 5,2 ton per hektare.

"Dengan hitungan-hitungan itu, kalau hasilnya mencapai 10 ton per hektare, petani bisa memperoleh sekitar Rp5 juta per bulan selama empat bulan.

Dari sebelumnya sekitar Rp2 juta sampai Rp3 juta, jadi memang bisa dobel," ujar Fadjry saat ditemui di lokasi tanam Distrik Kurik, Jumat (3/7).

Ia menjelaskan peningkatan tersebut dihitung dari kombinasi kenaikan hasil panen dan efisiensi biaya budidaya.

Dalam PM-AAS, populasi tanaman ditingkatkan melalui pengaturan jarak tanam yang dikombinasikan dengan sistem tanam jajar legowo (jarwo) sehingga jumlah rumpun tanaman dapat meningkat dari sekitar 250 ribu-600 ribu rumpun menjadi sekitar 800 ribu hingga satu juta rumpun per hektare.