Di saat yang sama, kebutuhan benih juga berkurang dari sekitar 100 kilogram menjadi sekitar 70-80 kilogram per hektare.

Biaya tanam pun turun karena penggunaan drum seeder menggantikan metode tanam pindah yang selama ini membutuhkan lebih banyak tenaga kerja.

"Kalau kebutuhan hara terpenuhi dan pengelolaannya baik, produksinya bisa dobel. Itu yang sudah kami buktikan dalam dua musim tanam," katanya.

Ongkos Tanam Turun Drastis

Bagi Abdul Rokim, petani di Kampung Candra Jaya, manfaat pertama yang dirasakan justru berasal dari efisiensi biaya, bahkan sebelum musim panen tiba.

Ia mengatakan metode tanam menggunakan drum seeder membuat pekerjaan di sawah menjadi lebih sederhana. Tanaman terlihat lebih rapi, pertumbuhannya lebih seragam, dan perawatannya lebih mudah dibanding metode sebelumnya.

"Kalau sekarang pakai program dari kementerian memakai drum seeder atau paralon. Dari sisi perawatan lebih mudah, lebih rapi.

Dari pertumbuhannya juga kelihatan lebih bagus. Tanamannya lebih sehat, anakannya lebih banyak," ujarnya.

Perbedaan paling besar, kata Abdul, terlihat pada biaya tanam.

Sebelumnya, metode tanam pindah membutuhkan ongkos sekitar Rp2 juta per hektare hanya untuk proses tanam, ditambah sekitar Rp800 ribu untuk pencabutan bibit.

Total biaya yang harus dikeluarkan mendekati Rp3 juta per hektare. Kini, dengan metode drum seeder, biaya tersebut turun menjadi sekitar Rp600 ribu per hektare.

"Kalau pakai metode paralon cuma Rp600 ribu. Jadi kita bisa menghemat sekitar Rp2,4 juta per hektare," katanya.

Abdul menggarap sekitar 3 hektare sawah.

>>> Pramono: Jembatan Gembok Cinta Dibangun di Atas Sungai Cideng

Dengan penghematan tersebut, biaya yang dapat ditekan dalam satu musim tanam diperkirakan mencapai sekitar Rp7 juta hingga Rp9 juta.