Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra menyoroti kasus dugaan penerimaan uang oleh mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK) usai aksi demonstrasi dan pertemuan dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Yusril mengaku prihatin atas peristiwa yang mencuat ke publik tersebut. Namun, ia tetap mengapresiasi kejujuran mahasiswa yang mengakui penerimaan uang dan meminta maaf.

in1

>>> Jenderal Terakhir yang Meninggalkan Afghanistan Kini Lengser

“Sebagai mantan aktivis mahasiswa saya sangat prihatin dengan kejadian itu.

Tapi ya kita menghargai juga mereka berterus terang mengakui kesalahan dan kemudian meminta maaf, supaya hal-hal semacam itu tidak terjadi,” kata Yusril.

Ia menegaskan dukungannya terhadap gerakan mahasiswa sebagai bagian dari kebebasan berekspresi dan gerakan moral yang penting dalam demokrasi.

Namun, Yusril mengingatkan agar nilai perjuangan tetap bersih dan tidak tercampur kepentingan lain.

“Kita berpesan kepada adik-adik mahasiswa supaya tetap menjaga integritas dan perjuangan itu harus murni. Karena kan ini soal waktu saja.

Jadi tetaplah tegar memegang teguh prinsip-prinsip dan jangan mudah kita terpengaruh oleh hal-hal yang seperti itu,” ucap dia.

>>> Terungkap, Trump Abaikan Peringatan Jenderal Sebelum Serang Iran

Kronologi Pengakuan Mahasiswa

Polemik bermula dari pengakuan Ketua BEM Fakultas Hukum UBK, Muhammad Abdimaludin, yang menyebut menerima uang Rp20 juta usai aksi demonstrasi dan pertemuan dengan Wapres Gibran pada Senin (15/6/2026).

Dana tersebut diduga terkait rencana pemindahan lokasi aksi mahasiswa dari depan Istana Negara ke kawasan Gedung DPR RI.

Pengakuan disampaikan dalam forum klarifikasi pada Senin (22/6/2026) malam setelah desakan agar pengurus BEM memberikan penjelasan terbuka.

Abdimaludin hadir dan mengakui penerimaan uang tersebut.

Ia menjelaskan dana itu bertujuan agar kelompok mahasiswa tidak menggelar aksi di depan Istana Negara dan memindahkannya ke Gedung DPR RI.

>>> Buku Baru Ungkap Ide Gila Trump Bikin Pejabat Gedung Putih Cemas

Namun, rencana pemindahan titik aksi tersebut pada akhirnya tidak berjalan. Aksi mahasiswa tetap digelar di kawasan Istana Negara sesuai rencana awal.