Sebuah buku baru mengungkap bahwa di balik keputusan kontroversial Presiden AS Donald Trump, banyak pejabat Gedung Putih diam-diam merasa cemas.

Buku berjudul "Regime Change: Inside the Imperial Presidency of Donald Trump" karya jurnalis New York Times, Maggie Haberman dan Jonathan Swan, membeberkan suasana internal yang mencekam.

in1

>>> Daftar SPKLU PLN di Medan Terdekat, Ini Lokasi Lengkapnya

Momen Paling Menegangkan

Haberman mengungkap salah satu momen paling menegangkan adalah saat Trump meluncurkan kebijakan tarif global besar-besaran pada "Liberation Day".

Banyak pejabat internal khawatir pasar keuangan akan hancur total.

"Mereka takut melihat pasar obligasi hampir benar-benar meleleh tujuh hari kemudian," kata Haberman, dikutip dari MS Now, Rabu (24/6).

Kekhawatiran itu baru mereda setelah Trump mundur dari sebagian kebijakan yang memicu gejolak.

>>> Jadwal KRL Jogja–Solo 24 Juni 2026, Rute Padat dari Pagi hingga Malam

Namun yang paling mengejutkan adalah kesediaan Trump untuk terus membawa AS ke titik berbahaya sebelum mengubah arah.

Ide Kontroversial Lainnya

Buku itu juga mengungkap ide kontroversial lain, termasuk gagasan memindahkan dua juta warga Palestina dari Gaza dan mengubahnya menjadi "Riviera Timur Tengah".

Seorang pejabat senior Gedung Putih menyebut ide tersebut "benar-benar gila", namun dianggap mencerminkan karakter Trump.

Haberman mengatakan banyak pejabat khawatir terhadap dampak keputusan besar, namun kritik jarang menjadi penolakan terbuka karena sebagian besar orang di lingkaran Trump ingin melihatnya sukses.

>>> Uang Beredar Tembus Rp10.415 Triliun, BI Ungkap Likuiditas dan Kredit Makin Kencang

Kekhawatiran hanya dibicarakan secara tertutup, sehingga keputusan besar seperti perang Iran dan kebijakan ekonomi global tetap berjalan meski memicu kecemasan internal.