Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut mengabaikan peringatan dari petinggi militernya sebelum memutuskan menyerang Iran. Keputusan itu justru menyeret Washington ke konflik berkepanjangan di Timur Tengah.

Fakta tersebut terungkap dalam buku berjudul Regime Change: Inside the Imperial Presidency of Donald Trump.

in1

>>> Buku Baru Ungkap Ide Gila Trump Bikin Pejabat Gedung Putih Cemas

Buku itu ditulis oleh dua jurnalis senior New York Times, Maggie Haberman dan Jonathan Swan.

Dalam buku tersebut, Swan mengungkap bahwa Trump menolak mempercayai kemungkinan Iran akan menutup Selat Hormuz. Padahal, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Dan Caine, telah memperingatkannya.

Caine memperingatkan Trump mengenai berbagai konsekuensi serius. Mulai dari dampak terhadap persenjataan AS hingga potensi korban jiwa akibat eskalasi perang.

Namun, Trump tetap yakin Iran tidak akan mampu bertahan lama. Ia menganggap pemerintahan Iran sebagai "macan kertas" yang akan runtuh dengan cepat begitu tekanan militer diberikan.

"Dia merasa rezim itu adalah macan kertas dan perang ini akan berlangsung cepat," ujar Swan, dikutip dari MS Now, Rabu (24/6).

Kenyataannya berbeda. Setelah konflik meletus, Selat Hormuz sempat ditutup dan memicu lonjakan harga minyak serta gas dunia.

>>> Daftar SPKLU PLN di Medan Terdekat, Ini Lokasi Lengkapnya

Jalur itu merupakan titik vital perdagangan energi global, karena menjadi jalur sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Trump disebut tetap berasumsi Iran tidak memiliki cukup waktu untuk merespons.

Ia yakin perang akan selesai dalam waktu singkat, namun konflik justru berlangsung berbulan-bulan dan memicu ketidakstabilan baru di Timur Tengah.

Swan menyebut cara berpikir Trump sebagai bentuk "magical thinking". Yakni keyakinan yang lebih didasarkan pada intuisi pribadi dibandingkan analisis para ahli.

Buku Regime Change: Inside the Imperial Presidency of Donald Trump disusun berdasarkan lebih dari 1.000 wawancara.

>>> Jadwal KRL Jogja–Solo 24 Juni 2026, Rute Padat dari Pagi hingga Malam

Buku itu menggambarkan bagaimana Trump berulang kali mengambil keputusan geopolitik besar berdasarkan keyakinannya sendiri, bahkan ketika bertentangan dengan masukan dari pejabat keamanan nasional dan militer AS.