Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Rabu (24/6/2026).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp17.951 per dolar AS, melemah sekitar 92 poin atau 0,52% dibandingkan posisi penutupan sebelumnya.

in1

>>> Cara Cek Penerima PIP 2026 Lewat HP, Dana Bantuan Pendidikan Cair Juni Ini

Prabowo: Kekayaan Keluar, Rupiah Tertekan

Presiden Prabowo Subianto menilai pelemahan rupiah tidak terlepas dari besarnya aliran kekayaan Indonesia yang keluar ke luar negeri.

"Kalau sekarang ada yang mengatakan rupiah kita lemah, ini dan itu, ya karena kekayaannya keluar.

Kalau darah kita tiap hari darah kita keluar, di ujungnya badan kita kolaps, mati," ujar Prabowo dalam siaran YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (23/6/2026).

Prabowo menjelaskan, berdasarkan data Dewan Ekonomi Nasional (DEN) dari PBB, Indonesia mencatat surplus perdagangan selama 17 dari 22 tahun terakhir.

Total keuntungan perdagangan Indonesia dalam periode tersebut mencapai US$436 miliar atau sekitar Rp7.790,01 triliun.

Namun, pada periode yang sama, arus dana keluar dari Indonesia tercatat mencapai US$343 miliar.

>>> Jadwal KRL Solo–Jogja 24 Juni 2026, Jam Keberangkatan dari Palur hingga Tugu Yogyakarta

"Jadi, kita lihat dari negara itu inflow outflow kita lihat disini selama 22 tahun uang yang keluar itu US$ 343 miliar.

Jadi, keuntungan US$ 436 yang keluar US$ 343 yang tinggal adalah sedikit sekali dibandingkan yang keluar. Ini angka di depan kita," urainya.

Menurut Prabowo, besarnya arus dana keluar tersebut menjadi salah satu penyebab manfaat surplus perdagangan tidak sepenuhnya dirasakan di dalam negeri.

Ia juga menyoroti praktik under-invoicing atau pelaporan nilai ekspor yang tidak sesuai kondisi sebenarnya. Praktik itu telah menyebabkan kerugian besar bagi negara selama puluhan tahun.

"Para pengusaha itu bohong katanya dia jual 1000 ton dia lapor hanya 500 ton. Artinya apa, artinya negara rugi.

>>> Gagalkan Penyelundupan Sabu di Area Vital, Lapas Surabaya Serahkan Pelaku ke Polisi

Setelah kita hitung ini angka kembali lagi di PBB kita telah rugi US$ 908 miliar dolar selama 34 tahun atau Rp 15 ribu triliun, Rp 15 ribu triliun," jelasnya.