Presiden Prabowo Subianto mengungkap alasan gaji guru dan pegawai negeri sipil (PNS) belum bisa naik signifikan.

Salah satu penyebabnya adalah kebocoran anggaran dan keluarnya kekayaan nasional ke luar negeri.

in1

>>> Aturan IAEA Inspeksi ke Negara Pemilik Nuklir: Ini Ketentuannya

Menurut Prabowo, Indonesia sebenarnya memiliki potensi ekonomi besar dan mencatat keuntungan dari perdagangan internasional selama puluhan tahun.

Namun, sebagian besar keuntungan tersebut tidak dinikmati di dalam negeri karena mengalir keluar melalui berbagai praktik merugikan.

"Saya ingin sampaikan dalam forum ini karena saya ingin saudara-saudara NU sebagai pemimpin, sebagai ulama, sebagai guru, sebagai pembimbing rakyat, harus mengerti kenapa gaji guru tidak bisa baik, kenapa gaji pegawai negeri tidak bisa baik, kenapa anggaran selalu kurang.

Ya karena uangnya enggak ada, diambil terus," kata Prabowo di Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6).

Ia menjelaskan data perdagangan internasional PBB yang diolah Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menunjukkan Indonesia mencatat keuntungan sebesar US$436 miliar atau Rp7.800 triliun dalam 22 tahun terakhir.

Namun, dalam periode yang sama, arus dana yang keluar dari Indonesia mencapai sekitar US$343 miliar.

"Begitu kayanya Republik kita, tiap tahun kekayaan kita diambil keluar, kita masih berdiri. Jadi kita lihat dari neraca itu inflow, outflow.

Selama 22 tahun uang yang keluar itu US$343 miliar," ujarnya.

Praktik Under-Invoicing Jadi Sumber Kebocoran

Prabowo mengatakan salah satu sumber kebocoran berasal dari praktik under-invoicing atau pelaporan nilai perdagangan yang tidak sesuai kondisi sebenarnya.

>>> Berkas Perkara Roy Suryo dan Dokter Tifa Dilimpahkan ke PN Jakarta Timur

Praktik itu membuat sebagian nilai ekspor tidak tercatat secara utuh sehingga berpotensi mengurangi penerimaan negara.