Singer-songwriter ALEPH tidak memiliki studio mewah. Tempat ia menulis lagu adalah kamar tidurnya sendiri.

"Ini kantor sekaligus rumah saya," katanya dalam wawancara eksklusif dengan The Korea Times di Mapo District, Seoul, Jumat (24/6).

in1

>>> Kolaborasi LE SSERAFIM, ILLIT, dan KATSEYE Tembus Billboard Hot 100

Ia duduk di apartemen yang berfungsi ganda sebagai tempat tinggal dan ruang kerja.

Sebuah studio produser memang tersedia untuk aransemen dan mixing, tetapi lagu-lagunya lahir di ruangan yang sama tempat ia tidur dan makan.

"Saya ambil gitar, bermain-main, dan jika melodi muncul, saya buat sketsa. Di hari yang baik, saya selesaikan semuanya di sini, lalu bawa ke studio," ujar ALEPH.

Perjalanan Karier yang Unik

ALEPH, nama asli Lee Jeong-jae, debut pada 2017 sebagai bagian dari duo sebelum menjadi solois pada 2019.

Dibesarkan di China dan Amerika Serikat sebelum kembali ke Korea untuk wajib militer, ia telah membangun katalog yang bergerak antara folk, pop, rock, dan R&B.

Karyanya meliputi EP "Hwaehwae" (2020) dan "Forest of Tigers" (2021), serta singel "Night and Night" yang masuk daftar lagu terbaik Apple Music Korea 2021.

Album penuh "SYNOPSIS" (2024) menggabungkan tiga proyek inti sebelumnya—"Philosophy," "Renaissance," dan "Requiem"—menjadi trilogi yang menelusuri perjuangan manusia antara kematian dan kelahiran.

Ia menggelar konser dengan nama yang sama pada 16-17 Mei di YES24 Live Hall, Seoul.

Filosofi Bermusik yang Berbeda

ALEPH membandingkan perbedaan antara musik indie dan K-Pop dengan resolusi gambar.

"Saat gambar kehilangan resolusi, ia mendapatkan tekstur yang berbeda. Beberapa orang suka tekstur itu.

Yang lain ingin 4K, 8K, benar-benar bersih," jelasnya.