Mandalika hingga Rempang: Hak Rakyat Tergilas Proyek Negara, Pemulihan Cuma Janji?
Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Muhammad Isnur menilai konflik agraria dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Indonesia merupakan pola sistemik yang berulang dalam kebijakan negara.
Menurutnya, kasus di Pulau Rempang saat masih berstatus Proyek Strategis Nasional (PSN) hanyalah satu contoh dari banyak kejadian serupa di berbagai daerah.
>>> Ekuador Ditahan Imbang Curacao Tanpa Gol di Kualifikasi Piala Dunia 2026
“Itu kejadian di mana-mana, termasuk di Bengkulu, Seluma, Flores, NTT, Nagekeo, bahkan di NTB tepatnya Kang Asman, warga terdampak pembangunan sirkuit Mandalika sampai sekarang belum dapat pemulihan haknya,” kata Isnur dalam diskusi Simposium Internasional secara daring, Sabtu (20/6/2026).
Isnur mengungkapkan, persoalan di Mandalika telah mendapat sorotan dari komunitas internasional, termasuk forum PBB dan Special Rapporteur. Namun hingga kini, warga terdampak belum memperoleh penyelesaian.
“Sampai sekarang forum internasional sudah memberi judgement di kasus Mandalika, tapi tidak dapat solusinya,” tambah dia.
Respons Represif terhadap Kritik
Selain konflik agraria, Isnur menyoroti pola respons negara terhadap kritik masyarakat. Aspirasi dan protes warga kerap dipandang sebagai ancaman sehingga direspons secara represif.
“Demo, kritik ini dicegah, ditekan supaya tidak ada suara-suara yang melukai. Dalam praktiknya seringkali dengan represi, penangkapan, kekerasan, dan kriminalisasi,” tutur Isnur.
>>> Digiland Run 2026 Hasilkan 26 Ribu Pohon untuk Ditanam
Ia mengungkapkan, YLBHI pernah mencatat sedikitnya 700 warga mengalami kriminalisasi pada 2023 akibat menyampaikan pendapat di ruang publik.
Isnur menilai persoalan tersebut lahir dari kebijakan struktural negara, khususnya dalam pengelolaan proyek strategis nasional.
“Kebijakan PSN memandang pulau-pulau itu sebagai tabula rasa, pulau kosong tidak produktif, sehingga layak dibuka menjadi pertambangan, food estate, atau singkong,” ujar Isnur.
“Itu sistemik, karena secara nasional menggunakan aparat negara di mana-mana,” sambung dia.
>>> Militer AS Bantah Klaim Iran Soal Penutupan Selat Hormuz
Cara pandang tersebut membuat konflik agraria dan pelanggaran hak warga terus berulang di berbagai daerah dengan pola yang hampir serupa.
Update Terbaru
4 Cushion Tahan Keringat untuk Aktivitas Seharian, Makeup Tetap Rapi
Minggu / 21-06-2026, 11:08 WIB
Situs Bersejarah Nani Wartabone di Gorontalo Terancam Hilang
Minggu / 21-06-2026, 11:08 WIB
Penyidik OJK Sita 41 Aset Properti Terkait Kasus BPRS Gebu Prima Medan
Minggu / 21-06-2026, 11:08 WIB
ATEEZ Raih Daesang di Seoul Music Awards 2026
Minggu / 21-06-2026, 11:08 WIB
Transmart Gelar Full Day Sale, Diskon Besar untuk Alat Masak dan Kebutuhan Rumah Tangga
Minggu / 21-06-2026, 11:08 WIB
Islam Melarang Keras Al-Qadzfu dan Menetapkan Sanksi Berat Bagi Penuduh Zina
Minggu / 21-06-2026, 11:08 WIB
33 Jamaah Haji Sumbar Terima Bantuan Rp20 Juta dari Uni Emirat Arab
Minggu / 21-06-2026, 11:06 WIB
Daihatsu Kumpul Sahabat 2026 Dibuka di Depok, Gratis untuk Umum
Minggu / 21-06-2026, 11:06 WIB
Zurich Syariah Fokus pada Edukasi dan Kolaborasi untuk Genjot Pasar Asuransi
Minggu / 21-06-2026, 11:06 WIB
MSCI Jadi Penentu Arah IHSG, Investor Tunggu Keputusan Krusial 23 Juni
Minggu / 21-06-2026, 11:04 WIB
American Manga Awards 2026 Umumkan 35 Nominasi, Ini Daftar Lengkapnya
Minggu / 21-06-2026, 11:04 WIB
3 Tersangka Kasus Kematian Pria di Area PT APN Labura
Minggu / 21-06-2026, 11:04 WIB
Usut Kasus Kredit Fiktif Rp15,47 Miliar, OJK Sita 41 Properti Terkait BPRS Gebu Prima Medan
Minggu / 21-06-2026, 11:01 WIB
Dari Stadion ke Timeline: Cara Gen Z Menikmati Piala Dunia di Second Screen
Minggu / 21-06-2026, 11:01 WIB






