Stroke dapat dipicu oleh berbagai faktor risiko, terutama yang memengaruhi pembuluh darah.

Hal ini disampaikan oleh dokter spesialis saraf subspesialis neurokritikal dan intensif dari Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), dr. Ramdinal Aviesena Zairinal, Sp.

in1

>>> BRKS dan BEM Poliwangi Soroti Dugaan Tambang Emas Ilegal di Petak 56

N(K).

Menurut dr. Sena, sapaan akrabnya, stroke adalah penyakit vaskular yang menyerang pembuluh darah di otak. Masalah pada pembuluh darah berpotensi meningkatkan risiko terjadinya stroke.

“Ketika stroke ini terjadi, memang ada banyak faktor risiko yang terlibat.

Ada darah tinggi, diabetes, sakit jantung, dan faktor-faktor yang tidak bisa dikontrol, misalnya ada keturunan,” kata Sena dalam wawancara dengan ANTARA di Jakarta, Jumat.

Ia menjelaskan bahwa seseorang yang mengalami stroke bisa juga disebabkan oleh masalah lain yang sudah ada sebelumnya, seperti hipertensi, diabetes, atau penyakit jantung.

Oleh karena itu, penanganan stroke harus disertai dengan pengelolaan kondisi-kondisi tersebut.

Faktor lain yang dapat menyebabkan stroke meliputi riwayat genetik keluarga, kelainan pembuluh darah, dan gangguan kekentalan darah. Sena menambahkan bahwa banyak studi menunjukkan riwayat keluarga meningkatkan risiko stroke.

>>> Direktur PT HWR Jadi Tersangka Korupsi Tambang Emas, Rugikan Negara Rp45 Miliar

Bahkan, literatur menyebutkan risiko bisa mencapai 20 persen lebih pada pasien yang memiliki riwayat keluarga stroke.

“Ketika ada orang tua yang mengalami stroke, penting bagi keturunannya untuk menjaga pola hidup dan mendeteksi dini faktor risiko,” ujarnya.

Sena juga menyoroti peningkatan kasus stroke seiring zaman. Menurutnya, hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan perkembangan teknologi.

“Saya masih ingat 20 tahun lalu semboyannya ‘satu dari enam’ akan mengalami stroke. Sekarang bahkan bisa ‘satu dari empat’, artinya semakin banyak,” imbuhnya.

Perubahan gaya hidup juga menjadi penyebab utama meningkatnya kasus stroke.

Pola makan yang beralih dari makanan alami menjadi ultra-processed food, serta kemajuan teknologi yang membuat orang jarang bergerak, turut meningkatkan risiko penyakit pembuluh darah.

>>> Ekonom: Fundamental Ekonomi RI Masih Menopang Kepercayaan Pasar

“Kurang olahraga, merokok, konsumsi makanan tidak sehat, dan stres akibat media sosial juga menjadi faktor risiko,” pungkas Sena.