Pada 2019, teleskop DECam menangkap kilatan cahaya aneh dari bintang di Awan Magellan Besar. Cahaya itu meredup kembali setelah sekitar satu jam.

Fenomena itu terlalu panjang untuk semburan bintang, terlalu singkat untuk supernova, dan terlalu mulus untuk variabilitas bintang biasa.

in1

>>> BPBD Pastikan Karhutla di Aceh Barat Berhasil Dipadamkan

Kini, tim astronom yang dipimpin Renee Key dari Swinburne University of Technology Australia mengklaim itu adalah sinyal lubang hitam purba.

Objek yang dijuluki Phoebe itu diperkirakan memiliki massa tiga kali Bulan Bumi. Ukuran cakrawala peristiwanya hanya sebesar titik di akhir kalimat ini.

Apa Itu Lubang Hitam Purba?

Lubang hitam purba berbeda dari lubang hitam biasa yang terbentuk dari keruntuhan bintang masif. Lubang hitam purba diduga muncul dari fluktuasi kuantum sesaat setelah Big Bang.

Karena ukurannya sangat kecil, lubang hitam purba sulit dideteksi. Namun, gravitasinya yang kuat dapat melengkungkan ruang-waktu dan memperbesar cahaya latar — efek yang disebut microlensing.

Sinyal Phoebe persis seperti efek microlensing: cahaya bintang membesar selama 60 menit, sementara bintang di sekitarnya tidak berubah.

Perdebatan Ilmiah Makin Panas

Tim Key memodelkan berbagai skenario: planet pengembara di Bima Sakti, planet pengembara di Awan Magellan Besar, dan lubang hitam purba di halo materi gelap Bima Sakti.

Hasilnya, Phoebe lima kali lebih mungkin berada di halo materi gelap Bima Sakti daripada di populasi bintang mana pun.

>>> Dokter Tifa Jalani Rawat Inap Akibat GERD Kambuh dan Stres Tinggi

Jaraknya diperkirakan sekitar 59.630 tahun cahaya.

Namun, kemungkinan planet pengembara juga belum sepenuhnya gugur. Secara observasi, planet pengembara lebih umum ditemukan.

Tapi di halo Bima Sakti yang jarang bintang, lubang hitam lebih mungkin.

Temuan ini memanaskan perdebatan yang sudah ada. Pada Februari 2026, astronom AS-Jepang mengidentifikasi 12 kandidat microlensing di Andromeda yang diduga lubang hitam purba.

Namun, tim Polandia membantahnya dengan mengatakan semua peristiwa itu bisa dijelaskan oleh bintang normal.

Key dan timnya mendukung interpretasi awal: peristiwa itu konsisten dengan lubang hitam purba. Mereka menyerukan teleskop yang lebih sensitif, seperti Roman dan Vera C.

>>> SpaceX: Dari Startup Ambisius hingga Penguasa Luar Angkasa

Rubin Observatory, untuk mengonfirmasi.