Wahana antariksa sinar-X milik NASA, Chandra, berhasil mendeteksi puing-puing sisa ledakan bintang mati atau supernova di area yang sangat dekat dengan pusat Galaksi Bima Sakti.

Puing kosmik tersebut ditemukan di sekitar lubang hitam supermasif Sagittarius A (Sgr A), yang menjadi jantung galaksi kita.

>>> North West Debut Manggung Solo, Kim K dan Kanye Beri Dukungan

Jaraknya diperkirakan sekitar 26.000 tahun cahaya dari Bumi.

Para astronom memperkirakan bintang asal puing tersebut meledak sekitar 1.700 tahun yang lalu.

Penemuan ini menjadi sisa-sisa kehancuran supernova terdekat yang pernah ditemukan dari lubang hitam pusat galaksi.

Sisa ledakan terletak di dalam wilayah Sagittarius C (Sgr C), sebuah gelembung gas hidrogen terionisasi yang memancarkan gelombang radio kuat.

Teleskop Chandra bekerja sama dengan teleskop luar angkasa XMM-Newton milik ESA untuk menangkap fenomena ini.

Hasil pengamatan memperlihatkan sisa ledakan sebagai gumpalan sinar-X yang terang.

Cangkang material yang dimuntahkan oleh ledakan purba tersebut masih bergerak dengan kecepatan mencapai 3,2 juta kilometer per jam.

Peran Penting Sisa Supernova bagi Ilmu Pengetahuan

Penemuan sisa supernova memiliki peran krusial bagi ilmuwan untuk memahami pengayaan kimiawi di dalam galaksi.

>>> Mobile Legends Season 41 Juni 2026: Jadwal Reset Rank dan Bocoran Hero Baru

Saat bintang masif meledak, mereka melontarkan elemen berat hasil tempaan hidrogen dan helium ke ruang angkasa.

Elemen-elemen berat ini nantinya bercampur dengan awan gas dan debu antarbintang.

Seiring waktu, wilayah padat pada awan molekul runtuh akibat gravitasi sendiri, lalu melahirkan generasi bintang baru dan membentuk planet.

Meskipun demikian, para ilmuwan mencatat masih ada teka-teki di balik penemuan ini.

Tim peneliti belum menemukan peningkatan jumlah elemen berat yang biasanya dilepaskan secara masif oleh bintang yang meledak.

Terdapat dua kemungkinan terkait kondisi tersebut. Pertama, material sisa ledakan kemungkinan sudah sepenuhnya bercampur dengan gas dan debu di sekitarnya.

Hipotesis alternatif menyebut gumpalan sinar-X itu bukanlah hasil dari supernova, melainkan gas yang dipanaskan oleh gugusan bintang muda yang masif.

Namun, tim peneliti menilai kemungkinan kedua sangat kecil karena pancaran sinar-X di Sgr C sepuluh kali lipat lebih terang.

>>> Games Terbaik Juni 2026 di Poki Games: Drive Mad dan Level Devil

Studi mendalam mengenai fenomena astronomi ini telah resmi diterbitkan dalam jurnal ilmiah The Astrophysical Journal.