Pada 2002, seorang pengusaha muda berusia 30-an dari keluarga kaya Afrika Selatan—ya, Elon Musk—telah mengumpulkan kekayaan, terutama setelah menjual perusahaan sebelumnya, PayPal.

Musk, yang gemar luar angkasa, kecewa dengan apa yang ia lihat sebagai kurangnya momentum NASA.

in1

>>> DPR Tindaklanjuti Aspirasi Mahasiswa soal BBM hingga MBG

Idenya?

Menawarkan layanan peluncuran orbit rendah dengan biaya lebih murah menggunakan roket yang dapat digunakan kembali, membuat peluncuran lebih sering dan terjangkau.

Dengan itu, ia mendirikan SpaceX. Tujuan jangka pendek: membangun peluncur roket di mana setidaknya satu tahap bisa dipulihkan dan digunakan kembali.

Mimpi jangka panjang: menjajah Mars.

Visi besar ini segera menghasilkan serangkaian janji—kedatangan di Mars pada 2013, lalu 2021, lalu 2031, dan seterusnya.

Pengamat cepat lelah dengan tenggat yang terus berubah!

Meski ambisi Mars naik turun dalam sorotan publik, tujuan yang lebih langsung mulai terbentuk.

Perjalanan Berat Menuju Orbit

Pada 2006, SpaceX meluncurkan roket ringan pertama mereka, Falcon 1.

Peluncuran gagal, tetapi pada 2008 mereka berhasil menempatkan muatan ke orbit—sebuah pencapaian pertama bagi perusahaan swasta murni.

“Luar angkasa telah menjadi perbatasan baru untuk investasi, berada di persimpangan antara inovasi teknologi dan kedaulatan nasional.

Ini bukan lagi sekadar wilayah eksplorasi ilmiah—sekarang menjadi lahan subur bagi kepentingan industri, publik, dan teknologi.”

Meskipun ada pengakuan awal, interaksi SpaceX dengan NASA—sering dikritik saat itu—yang mendorong mereka ke level berikutnya.

Pada 2008, NASA menunjuk SpaceX untuk membangun wahana kargo yang mampu mengirim barang ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

>>> Pria Diduga Bunuh Istri di Angke Jakbar Diringkus Polisi

Namun satu bagian penting masih hilang: roket yang kuat dan andal.