Cuaca sering kali menjadi faktor penentu dalam konflik, dan beberapa kondisi meteorologi telah mengubah jalannya sejarah Prancis secara mendalam.

Tanpa cuaca yang mendukung pada 6 Juni 1944, nasib Prancis mungkin akan sangat berbeda.

in1

>>> Norton Mulai Distribusikan Superbike Manx R ke Dealer Inggris

Pada awal Juni 1944, situasi meteorologi tampak suram: sistem tekanan rendah melanda, menyebabkan badai hebat di barat laut Prancis.

Angin kencang, hujan deras, dan ombak besar memaksa Sekutu membatalkan pendaratan yang semula dijadwalkan pada 5 Juni 1944.

Cuaca buruk yang terus berlanjut bahkan membuat Sekutu mempertimbangkan untuk menunda operasi hingga 19 Juni.

Namun, dalam sebuah pertemuan kritis, para peramal cuaca di bawah pimpinan kepala meteorolog James Stagg mengambil risiko besar: menjadwalkan pendaratan Normandia pada 6 Juni untuk mengecoh Jerman.

Jendela Cuaca Singkat yang Menentukan

Di tengah kondisi cuaca yang keras, mereka memperkirakan adanya celah perbaikan singkat, hanya sekitar 24 jam, pada 6 Juni.

Periode pendek itu akan membawa kondisi yang lebih tenang dan kering, langit lebih cerah, angin lebih ringan bagi pasukan payung, ombak lebih kecil, dan air surut yang lebih menguntungkan.

Hari-H atau D-Day pun berlangsung pada 6 Juni pagi, dengan cuaca sedikit lebih berawan dari perkiraan namun tetap tenang.

>>> Hari Wartawan Nasional Malaysia Perkuat Kolaborasi Jurnalis ASEAN

Yang terpenting, pasukan Jerman sama sekali tidak siap.

Menurut Météo France, Jerman yang mengantisipasi pendaratan di suatu tempat di pantai Prancis, memantau cuaca dengan saksama.

Mereka tahu bahwa kondisi pasang dan bulan akan mendukung mulai 5 Juni, dan mereka meramalkan cuaca buruk dari 5 hingga 7 Juni.