Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memilih membangun masjid kecil atau tajug di permukiman warga. Langkah ini diambil untuk mengembalikan esensi masjid sebagai tempat ibadah dan refleksi spiritual.

Menurut Dedi, banyak masjid saat ini bergeser fungsi menjadi ruang rekreasi dan aktivitas publik. Aspek spiritualitas kerap kalah dibanding daya tarik arsitektur yang mendorong orang datang untuk berfoto.

in1

>>> KPK Tak Akan Duplikasi Kasus MBG yang Ditangani Kejagung

"Kalau masjid sarana rekreasi, bukan sarana spiritualitas, maka masjid hanya akan menjadi tempat swafoto, bukan tempat tafakur," kata Dedi di Bandung, Jumat.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengarahkan pembangunan lebih banyak tajug di lingkungan padat penduduk. Hal ini untuk mendekatkan sarana ibadah kepada masyarakat.

"Kami ingin membangun masjid-masjid kecil di lingkungan masyarakat yang membutuhkannya setiap waktu. Masjid-masjid megah sudah banyak di Jawa Barat," ujar Dedi.

>>> HMSI Dukung Pendidikan Vokasi dengan Truk Hino 300 untuk SMKN 5 Makassar

Pengembangan tajug akan dilakukan secara bertahap dan terintegrasi dengan dukungan berbagai pihak. Konsep ini bertujuan menghidupkan kembali fungsi surau sebagai pusat kegiatan keagamaan tanpa menambah struktur pengelolaan baru.

"Kami ingin membangun masjid yang ada jamaahnya, tempat anak-anak mengaji, dan menjadi ruang ibadah masyarakat," katanya.

Mantan Bupati Purwakarta itu menilai nilai ibadah tidak ditentukan oleh kemegahan bangunan. Kualitas hubungan spiritual seseorang dengan Tuhan jauh lebih penting.

>>> Wuling dan Grab Perluas Armada EV untuk Percepat Adopsi Kendaraan Listrik

Menurut Dedi, tempat bukan faktor utama dalam membangun kedekatan spiritual. Yang terpenting adalah keheningan batin dan kemampuan menghadirkan nilai ketuhanan dalam kehidupan sehari-hari.