Bangkai kapal penjara milik Jepang yang tenggelam bersama lebih dari 1.000 tawanan perang Sekutu pada tahun 1944 akhirnya ditemukan di perairan Filipina.

Penemuan sisa-sisa salah satu "kapal neraka" tersebut menjadi bukti nyata kekejaman masa perang.

in1

>>> CEO Danantara: Kredit UMKM Harus Tetap Terjaga Meski BI Rate Naik

Kapal ini dahulu digunakan oleh militer Jepang untuk mengangkut para tawanan di antara kamp-kamp kerja paksa.

Sebagian besar korban yang gugur dalam tragedi tersebut sebelumnya sempat dipaksa bekerja di jalur kereta api maut Burma-Thailand.

"Sayangnya, banyak dari kapal pengangkut tawanan ini ditenggelamkan oleh Sekutu," ungkap pemimpin ekspedisi, Josh Gates, kepada Live Science.

"Kapal-kapal itu dicat agar terlihat seperti kapal militer, dan posisinya berada di dalam konvoi Jepang sehingga Sekutu mengira kapal-kapal itu adalah target militer yang sah," terangnya.

Upaya pelacakan keberadaan Hofuku Maru dilakukan melalui kerja sama antara tim ekspedisi pimpinan Gates dan Hellships Memorial Foundation.

Berkat akurasi catatan masa perang milik Jepang, lokasi tepat dari sisa-sisa kapal tersebut berhasil diidentifikasi pada bulan Januari.

Tim peneliti kemudian melakukan lima kali penyelaman ke lokasi bangkai kapal yang berada beberapa mil dari lepas pantai barat Luzon, pulau utama di Filipina.

Struktur kapal kuno ini ditemukan bersemayam di kedalaman sekitar 50 meter di bawah permukaan laut.

Selama berlangsungnya Perang Dunia II, Jepang diketahui mengoperasikan lebih dari 130 kapal neraka, namun hanya sedikit yang berhasil ditemukan kembali.

Sebagian besar armada tersebut, termasuk Hofuku Maru, merupakan kapal kargo yang dialihfungsikan menjadi penjara apung sejak tahun 1942.

Berdasarkan penjelasan Gates, kapal kargo ini sedang berlayar dalam konvoi militer menuju Jepang dari wilayah Filipina ketika serangan udara terjadi pada 21 September 1944.