Chief Executive Officer (CEO) Danantara Rosan Perkasa Roeslani menyatakan pinjaman perbankan, khususnya bank Himbara, kepada masyarakat harus tetap terjaga meskipun Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen.

Pernyataan itu disampaikan Rosan di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Kamis malam, usai pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dengan sejumlah petinggi Himbara.

in1

>>> Morgan Oey dan Nirina Zubir Resmi Jadi Duta FFI 2026

Rosan menjelaskan bank-bank Himbara saat ini harus terus meningkatkan produktivitas dan efisiensi, serta menjaga tingkat kredit bermasalah (NPL) tetap rendah.

"Walaupun ada kenaikan suku bunga, tetapi lending-nya ke masyarakat, kepada dunia usaha, terutama UMKM, itu tetap bisa terjaga di level yang baik, di level yang sama," kata Rosan.

Ia melanjutkan dalam periode setahun terakhir, pinjaman perbankan untuk masyarakat termasuk UMKM naik rata-rata 15 persen.

"Likuiditas juga, dana pihak ketiga terjaga juga naik double-digit, dan yang paling penting NPL-nya, non-performing loan bank kita, Mandiri itu hanya 0,9 persen.

Jadi, average NPL bank Himbara itu antara 0,9 persen sampai 1,8 persen pada saat ini.

Nah, justru hal-hal itu yang mesti diperbaiki, yang mesti ditingkatkan efisiensinya," ujar Rosan.

>>> Memahami Perbedaan Investasi Emas dan Perak untuk Strategi Finansial

Dukungan Danantara terhadap Kebijakan BI

Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir menyampaikan Danantara mendukung kebijakan Bank Indonesia terkait kenaikan BI Rate.

"Kami dari sisi Danantara ikut saja apa yang sudah dilakukan policymaker baik dari sisi fiskal dan moneter, tentunya (Danantara) pasti support, mereka (BI) sudah memperhitungkan.

Buat kami Danantara sebagai pelaku akan lakukan yang terbaik," ujar Pandu.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo pada Kamis mengumumkan kenaikan suku bunga acuan menjadi 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur Juni 2026.

Suku bunga Deposit Facility juga naik 25 bps menjadi 4,75 persen dan suku bunga Lending Facility naik 25 bps menjadi 6,50 persen.

>>> Meta Luncurkan Fitur Baru Setelah Threads Tembus 500 Juta Pengguna

"Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk makin memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tetap tingginya ketidakpastian global serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen," kata Perry.