Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai kondisi fundamental perekonomian nasional yang relatif kuat masih menjadi penopang kepercayaan pasar.

"Pasar melihat fundamental domestik masih cukup kuat," kata Josua saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat.

in1

>>> 18 Tewas Akibat Serangan Israel di Lebanon Selatan, Evakuasi Terhambat

Menurut Josua, persepsi itu dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 persen dan inflasi Mei 2026 yang terkendali di level 3,08 persen.

Dari sisi fiskal, realisasi pembiayaan anggaran hingga 31 Mei 2026 telah mencapai Rp379,4 triliun atau 55,1 persen dari target APBN.

Sementara pembiayaan utang mencapai Rp386,0 triliun atau 46,4 persen dari target Rp832,2 triliun.

"Artinya pemerintah tidak sedang berada dalam kondisi kesulitan pembiayaan jangka pendek, tetapi tantangannya adalah menjaga agar sisa pembiayaan tidak diperoleh dengan biaya yang terlalu mahal," ujar Josua.

Ia menilai pemerintah perlu memastikan strategi pembiayaan tidak hanya mengejar pemenuhan dana, tetapi juga menjaga biaya, tenor, dan kepercayaan investor.

Dari sisi arus modal, sinyal pasar menunjukkan perbaikan.

Namun, sebagian besar dana asing masih mengalir ke instrumen jangka pendek seperti SRBI, sementara minat terhadap SBN jangka menengah dan panjang masih perlu diperkuat.

>>> Kaki Ismael Kone Patah, Gelandang Kanada Pasrah pada Takdir

Dalam kondisi tersebut, kenaikan BI Rate ke 5,75 persen dinilai membantu menjaga daya tarik aset rupiah dan meredam tekanan terhadap nilai tukar.

Meski begitu, kata Josua, pemerintah tetap perlu memperkuat minat investor terhadap SBN melalui strategi penerbitan yang fleksibel, komunikasi kebijakan yang konsisten, dan penguatan basis pembeli domestik.

Pemerintah juga dinilai perlu menjaga disiplin fiskal melalui pengendalian defisit, penyaringan belanja prioritas, serta penundaan belanja yang belum mendesak.