Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menemui Menteri Keuangan Republik Rakyat China Lan Fo'an di Beijing pada Rabu (17/6/2026).

Pertemuan ini membahas rencana penerbitan Surat Berharga Negara valas berdenominasi renminbi yuan atau Panda Bond.

in1

>>> Gordon Strachan Dorong Manchester United Tikung Arsenal Rekrut Ayoub Bouaddi

Kunjungan bilateral ke kantor Kementerian Keuangan China ini menjadi langkah awal dari rangkaian pertemuan dengan berbagai pejabat dan lembaga perekonomian di Beijing.

Langkah ini dilakukan guna memperluas basis investor dan memperdalam kemitraan ekonomi strategis di tengah ketidakpastian global.

"Indonesia tidak menunggu.

Kami bergerak lebih awal dengan membangun fondasi pembiayaan yang kuat dan berkelanjutan agar pembangunan dapat terus berjalan di tengah berbagai tantangan global," ujar Purbaya Yudhi Sadewa.

Penjajakan instrumen keuangan ini disebut sebagai bagian dari perencanaan pembiayaan jangka panjang yang terukur demi menjaga kepercayaan pelaku pasar internasional.

"Ini adalah bagian dari perencanaan yang telah disusun jauh sebelumnya. Pemerintah terus menjalankan strategi pembiayaan secara terukur, disiplin, dan berorientasi jangka panjang," jelas Purbaya.

Dalam kesempatan tersebut, kondisi fundamental ekonomi Indonesia dilaporkan tetap kukuh dengan pertumbuhan mencapai 5,61 persen pada kuartal I/2026.

Rasio utang pemerintah berada di angka 40,75 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) atau setara Rp9.920,42 triliun pada periode yang sama.

Defisit APBN tercatat terkendali sebesar 0,70 persen PDB atau Rp180,4 triliun per akhir Mei 2026.

>>> Kemenag Luruskan Narasi Pernyataan Menag Soal Nabi Musa dan Firaun

"Kami datang ke Beijing karena Indonesia memiliki posisi yang kuat untuk membangun kerja sama yang saling menguntungkan.

Ketika fondasi ekonomi kokoh, kita memiliki ruang untuk bertindak lebih strategis dan lebih percaya diri," tutur Purbaya.