Suku Bunga BI Naik, Investor Bisa Kunci Yield Obligasi Tinggi
Sejumlah emiten diprediksi memilih menunda ekspansi, beralih ke refinancing tenor pendek, atau mengoptimalkan pinjaman bank.
Namun, penurunan penerbitan tidak akan anjlok drastis karena kebutuhan refinancing sektor keuangan, multifinance, telekomunikasi, dan utilitas masih besar.
Pergerakan kupon ke depan akan dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga BI, yield US Treasury, nilai tukar rupiah, harga minyak, kondisi fiskal, serta arus modal asing.
>>> Pertamina Pamerkan Produk UMKM Binaan di Jakarta Fair Kemayoran 2026
"Jika tekanan global mereda dan rupiah stabil, maka yield dapat mulai menurun.
Sebaliknya, apabila ketidakpastian geopolitik dan tekanan inflasi berlanjut, kupon penerbitan baru berpotensi tetap tinggi hingga akhir tahun," jelas Domingus.
Strategi Investasi Obligasi
Domingus menyarankan investor memanfaatkan momentum suku bunga tinggi melalui strategi barbell. Caranya dengan memadukan SBN sebagai portofolio utama dan obligasi korporasi bermutu tinggi sebagai pelengkap.
Instrumen SBN dinilai aman dari risiko kredit, menawarkan yield kompetitif, serta menjanjikan capital gain saat suku bunga mulai melandai pada 2027.
Pada obligasi korporasi, investor disarankan memilih emiten minimal berperingkat AA dari sektor defensif dengan arus kas kuat.
Investor konservatif disarankan mengambil posisi overweight pada SBN.
Investor moderat dapat mencampur SBN dengan obligasi investment grade, sedangkan investor agresif bisa memperbesar porsi obligasi korporasi melalui seleksi kredit ketat.
Pasar obligasi pada semester II 2026 diperkirakan tetap konstruktif di tengah volatilitas tinggi.
Periode ini akan menjadi momentum carry trade dan income investing karena kupon menjadi motor utama imbal hasil.
Bagi pemegang dana jangka menengah hingga panjang, situasi yield tinggi merupakan waktu tepat untuk akumulasi berkala.
Fokus akumulasi dapat diarahkan pada SBN tenor 5-10 tahun dan obligasi korporasi investment grade tenor 3-5 tahun.
"Secara keseluruhan, kami tetap overweight fixed income untuk semester II 2026.
>>> Pakar Otomotif Ungkap Tiga Jenis GPS Mobil dan Cara Kerjanya
Meskipun volatilitas jangka pendek masih tinggi akibat faktor global, level yield saat ini sudah cukup menarik untuk membangun posisi strategis sebelum siklus penurunan suku bunga berikutnya mulai terbentuk," pungkas Domingus.
Update Terbaru
Kronologi Wanita Tusuk Rekan Kerja Hingga Tujuh Kali di Menteng
Jumat / 19-06-2026, 21:15 WIB
Wamen ESDM: Jargas CNG Percepat Akses Energi di Wilayah Tanpa Pipa
Jumat / 19-06-2026, 21:15 WIB
Angkasa Pura Indonesia Revitalisasi Terminal Bandara Minangkabau Rp553 Miliar
Jumat / 19-06-2026, 21:15 WIB
Arsenal vs Coventry City di Pekan Pembuka Premier League 2026/2027
Jumat / 19-06-2026, 21:12 WIB
Belanda Hadapi Swedia di Laga Hidup Mati Piala Dunia 2026
Jumat / 19-06-2026, 21:12 WIB
Skotlandia vs Maroko: Duel Panas Perebutan Puncak Grup C Piala Dunia 2026
Jumat / 19-06-2026, 21:10 WIB
FIFA Blokir Tiket Pelaku Rasisme, Undang YouTuber Korea Selatan
Jumat / 19-06-2026, 21:10 WIB
Universitas Surabaya dan Institut Perbanas Jakarta Juarai Campus League 2026
Jumat / 19-06-2026, 21:10 WIB
Dampak Tersembunyi Kerja Malam Terungkap Lewat 14.000 Pemindaian Otak
Jumat / 19-06-2026, 21:08 WIB
Kritikus Bedah Kelemahan Naskah Disclosure Day Karya Steven Spielberg
Jumat / 19-06-2026, 21:08 WIB
H5N1 Diduga Tewaskan Ribuan Anak Anjing Laut di Australia
Jumat / 19-06-2026, 21:08 WIB
Imigrasi Denpasar Pastikan Layanan Normal Usai Digeledah KPK
Jumat / 19-06-2026, 21:08 WIB
Yayasan Tarumanagara Siapkan Cetak Biru Kampus 4 Seluas 138 Hektare
Jumat / 19-06-2026, 21:08 WIB
Mahasiswa di Semarang Jadi Tersangka Kekerasan Seksual Verbal
Jumat / 19-06-2026, 21:04 WIB






