Kerja shift malam bukan untuk mereka yang lemah.

Bertahan terjaga dari senja hingga fajar, seperti yang dilakukan banyak perawat, dokter, dan petugas darurat, tampaknya berdampak pada tubuh dan pikiran.

in1

>>> H5N1 Diduga Tewaskan Ribuan Anak Anjing Laut di Australia

Namun, apakah hal itu memengaruhi otak?

Ilmuwan saraf di Singapura kini menemukan bukti bahwa kerja shift terkait dengan hilangnya volume di area kunci otak.

Jika kerja shift dihentikan, penyusutan tersebut tampaknya pulih sebagian dalam waktu rata-rata dua setengah tahun.

Namun, apa arti kehilangan dan pemulihan itu bagi kesehatan atau perilaku manusia masih belum jelas.

Temuan Studi Pemindaian Otak

Studi ini merupakan yang terbesar dari jenisnya dan menganalisis data MRI serta kesehatan jangka panjang dari 14.198 orang dewasa paruh baya hingga lanjut usia tanpa masalah medis yang berpartisipasi dalam UK Biobank.

Di antara 2.122 pekerja shift, para peneliti melihat pola simetris penyusutan volume yang sederhana di talamus kanan, yang merupakan bagian dari "pusat" penyampaian informasi otak dan terkait erat dengan pengambilan memori.

Mereka juga mengamati penyusutan volume sederhana di amigdala kiri, yang mengatur respons emosional. Temuan ini muncul setelah peneliti memperhitungkan faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin, kronotipe, dan volume tengkorak.

"Hilangnya volume talamus dan amigdala yang selektif pada pekerja shift yang sehat mungkin merupakan penanda awal subklinis kerentanan saraf yang terkait dengan gangguan sirkadian kronis," simpul tim yang dipimpin oleh ilmuwan saraf Thomas Welton.

Analisis sekunder menemukan korelasi negatif antara kehilangan volume dan kinerja kognitif: kehilangan volume yang lebih besar dikaitkan dengan kinerja yang lebih buruk pada beberapa tes kognitif, meskipun tidak semuanya.