Namun, ukuran efeknya "sangat kecil," demikian peringatan para penulis, sehingga hasilnya "harus ditafsirkan dengan hati-hati."

Pemulihan dan Implikasi

Area otak yang menunjukkan kehilangan volume signifikan juga membantu mengatur siklus tidur kita.

in1

Area tersebut juga terlibat dalam banyak gejala yang terkait dengan kerja shift, termasuk regulasi emosi dan kinerja memori yang lebih buruk.

Kesulitan mengatur emosi sering dikaitkan dengan kurang tidur, dan pekerja shift diketahui menghadapi risiko lebih tinggi terhadap gangguan tidur dan masalah kesehatan mental.

>>> Imigrasi Denpasar Pastikan Layanan Normal Usai Digeledah KPK

Para peneliti telah lama menduga bahwa ritme sirkadian yang terganggu adalah penyebabnya.

Faktor lain yang mungkin berkontribusi termasuk kurangnya sinar matahari dan perubahan jadwal makan. Namun, penyusutan beberapa bagian otak belum tentu berarti sel-sel otak mati.

Otak adalah organ fleksibel yang dapat mengatur ulang dirinya sendiri untuk memenuhi tuntutan saat ini.

Mungkin itulah yang terjadi pada pekerja shift: otak mereka mungkin berkompensasi dengan cara tertentu sehingga memungkinkan mereka bekerja sepanjang malam.

"Ada kemungkinan bahwa individu yang gagal mengalami perubahan otak ini tidak dapat mentolerir kerja shift dan karena itu cenderung memilih peran non-shift," catat para penulis.

Studi ini hanya melibatkan orang dewasa yang lebih tua, sehingga belum jelas bagaimana otak pekerja yang lebih muda dapat mengatasi tuntutan kerja shift.

Studi lebih lanjut diperlukan untuk memahami bagaimana orang yang berbeda merespons dan terpengaruh oleh jenis pekerjaan ini.

Saat ini, pekerja shift penuh waktu mencakup sekitar 10% hingga 17% populasi AS.

Namun, menurut beberapa perkiraan, sekitar seperempat angkatan kerja dewasa saat ini bekerja di luar jam tradisional.

Jika pekerjaan ini berulang kali mengganggu ritme sirkadian alami tubuh, hal itu dapat berdampak jangka panjang dan terukur pada otak.

Namun, para ilmuwan tidak akan tahu pasti sampai perubahan tersebut dipelajari lebih lanjut.

"Di 'era umur panjang,' sangat penting untuk memahami hubungan antara kerja shift dan struktur otak usia paruh baya hingga lanjut," tulis Welton dan rekan-rekannya.

"Reversibilitas yang tampak dari efek struktural [yang diamati] dalam waktu dua tahun setelah berhenti kerja shift menyoroti jendela terapi potensial untuk pencegahan dan pemulihan," tambah mereka.

>>> Yayasan Tarumanagara Siapkan Cetak Biru Kampus 4 Seluas 138 Hektare

Studi ini dipublikasikan di jurnal NeuroImage.