Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan jaringan gas bumi (jargas) berbasis Compressed Natural Gas (CNG) dapat mempercepat akses energi bersih bagi masyarakat di wilayah yang belum terjangkau jaringan pipa gas.

Pernyataan itu disampaikan Yuliot saat meninjau implementasi jargas berbasis CNG di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat.

in1

>>> Angkasa Pura Indonesia Revitalisasi Terminal Bandara Minangkabau Rp553 Miliar

Pemerintah menargetkan 160 ribu sambungan rumah tangga jargas pada 2026 yang tersebar di Pulau Jawa, Sumatra, dan Kalimantan.

"Untuk tahun 2026, target 160 ribu sambungan rumah tangga di berbagai kota akan dipercepat. Lelangnya baru akan dilakukan akhir Juli ini.

Jadi secara teknis, ada kajian untuk kesiapan masing-masing kota yang saat ini sedang diselesaikan," kata Yuliot.

Pengembangan tersebut disesuaikan dengan kesiapan daerah serta kedekatannya dengan sumber gas bumi yang akan didistribusikan melalui skema CNG.

Menurut Yuliot, pengembangan jargas berbasis CNG atau beyond pipeline menjadi solusi pemerataan akses energi tanpa harus menunggu pembangunan jaringan pipa transmisi gas bumi yang membutuhkan waktu dan investasi besar.

Pemerintah juga tengah menyiapkan peningkatan jumlah sambungan rumah tangga pada tahun berikutnya melalui dukungan pembiayaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Dan tahun depan, dari pembiayaan APBN, justru kita akan tingkatkan totalnya menjadi 1 juta satuan sambungan rumah. Jadi ini juga lagi kita persiapkan untuk anggaran tahun 2027.

Untuk tahun 2028, itu sudah bisa untuk 1 juta satuan sambungan rumah terlaksana," katanya.

>>> Arsenal vs Coventry City di Pekan Pembuka Premier League 2026/2027

Di Kabupaten Sleman, implementasi jargas berbasis CNG saat ini telah melayani 4.545 sambungan rumah tangga, enam pelanggan kecil, dan empat pelanggan komersial.